Siput yang Pemaaf

Oleh Sam Edy Yuswanto (Padang Ekspres, 31 Maret 2019)

Siput yang Pemaaf ilustrasi Orta - Padang Ekspresw
Siput yang Pemaaf ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Pagi itu cuaca sangat cerah. Seekor siput bercangkang putih berjalan pelan menuju goa yang jaraknya masih lumayan jauh. Saat melewati dua ekor belalang yang sedang berpesta pora di pinggir jalan, ia ditertawakan mereka.

“HAI Put, mau ke mana, kok lelet banget jalannya?” sapa seekor belalang hijau dengan pandangan meremehkan.

“Eh, memang ada siput yang jalannya nggak lelet?” belalang cokelat menimpali sambil tertawa.

“Iya, ya? Bukankah bangsa siput memang lelet alias pemalas? Hahaha!” sahut belalang seraya tertawa ngakak.

“Permisi, saya sedang buru-buru,” Siput berusaha untuk tidak marah. Meski hatinya terasa sakit karena tiap berjumpa belalang, mereka pasti meledek. Siput berusaha bersabar. Ia percaya, kesabaran mampu mengalahkan segalanya termasuk bersabar saat ada yang menyakitinya.

“Buru-buru kok jalannya lelet begitu, kapan sampainya, hahaha!”

Siput terus berjalan tanpa memedulikan celotehan sepasang belalang yang tak henti menertawakannya.

***

Jlegeerr!! Sepasang belalang yang sedang pulas tertidur akibat kekenyangan, langsung terlonjak saat mendengar gelegar guntur. Mereka buru-buru berkemas saat menyadari langit telah rata tertutup mendung.

“Kok tiba-tiba mendung, ya? Padahal barusan cuaca sangat cerah, apa jangan-jangan kita tertidur cukup lama?” gerutu belalang hijau sambil berkemas menuju goa. Selama ini, goa yang lokasinya di ujung bukit itu, menjadi tempat berteduh oleh beragam jenis binatang.

“Ayo, buruan, kita terbang ke dalam goa, sebelum hujan turun!” teriak belalang cokelat. Beberapa detik sebelum tiba di goa yang dikelilingi rimbun ilalang dan pepohonan, hujan terlanjur turun deras hingga membuat tubuh keduanya basah kuyup.

***

Arsip Cerpen di Indonesia