Siput yang Pemaaf

“Fyuhh! Dingin sekali,” belalang hijau merapatkan kedua sayapnya yang basah. Tubuhnya bergigil menahan dingin.

“Sial! Gara-gara terlalu pulas tidur, kita sampai nggak menyadari cuaca tiba-tiba berubah mendung,” timpal belalang cokelat sambil mengibas-ngibaskan kedua sayapnya.

Sementara itu, di luar hujan masih turun deras. Tiba-tiba belalang hijau merasa perutnya sangat lapar. “Aduh, kenapa perutku kok tiba-tiba lapar sekali, ya?” belalang hijau meringis sambil memegangi perutnya.

“Iya, aku juga. Kamu sih, makanannya tadi dihabiskan semua,” sahut belalang cokelat.

“Lho, kok jadi aku yang disalahkan, bukankah kita berdua sepakat untuk menghabiskan makanan itu?” belalang hijau tak mau disalahkan. Selama ini, belalang memang tergolong hewan serakah. Jika baru mendapat makanan, langsung dihabiskan semua. Bahkan jika ada hewan lain yang sedang kelaparan, mereka tak mau berbagi makanan.

Sepasang belalang itu tak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa merintih menahan lapar dan dingin yang menusuk tulang. Sementara tak jauh di ujung sana, terlihat seekor siput putih sedang asyik menyantap makanan bersama dua ekor anaknya yang masih kecil-kecil. Mereka tak nampak kedinginan karena Tuhan menganugerahi cangkang yang sangat kokoh sebagai tempat berlindung dari cuaca terik dan hujan. Selain penyabar, telah lama siput meniru kebiasaan bangsa semut yang selalu menyediakan makanan di sarang mereka. Sehingga saat musim hujan tiba, mereka bisa hidup tenang tanpa tersiksa rasa lapar.

Kedua belalang itu hanya menelan ludah saat melirik ke arah tiga ekor siput yang tengah menikmati makanan.

“Eh, coba kamu minta makanan sama Siput, sepertinya mereka punya bekal makanan yang banyak,” kata belalang hijau pada belalang cokelat.

“Apa? Minta? Eh, apa kamu nggak ingat, barusan kita telah meledek dan menghina mereka? Apa mungkin mereka sudi berbagai makanan dengan kita?” sahut belalang hijau.

“Iya juga, sih.”

***

Arsip Cerpen di Indonesia