Kepelitan melahirkan kegilaan di kepala Ali Sapono. Demikian yang orang-orang desa yakini. Bahkan, bukan hanya penjahat yang ingin membobol rumahnya saja yang kena; yang tidak bermaksud menyenggol harta bendanya pun ketiban sial.
Hanya, di desa itu, tidak semua orang berpikiran demikian. Mereka membenci Ali Sapono karena kepelitan dan kegilaannya, tetapi tidak dengan ahli ibadah itu. Mudakir tidak pernah ada urusan dengan raja pelit, tapi saat ada perempuan dari luar kota ingin bertamu ke rumah pria kaya raya itu, dia dengan senang hati mengantar.
Mudakir mengantar si tamu tepat hingga ke depan gerbang rumah Ali Sapono yang megah dan setinggi nyaris sepuluh meter, dengan kawat dan segala tetek-bengek pengamanan begitu mencolok dengan rumah-rumah kecil di sekitarnya. Tentu, dahulu, rumah-rumah kecil itu masih dihuni pemiliknya. Namun sejak kedatangan Ali Sapono, rumah-rumah itu jadi kosong karena dia beli demi rasa aman.
Suatu kali orang pelit itu pernah berkata, “Lebih baik saya tinggal sendirian dalam radius setengah kilo daripada harus tinggal dekat dengan orang-orang yang bermaksud mencolong duit saya!”
Alhasil, rumah Ali Sapono bagai istana di tengah hutan. Rumah-rumah kecil tidak berpenghuni itu bagaikan rimbun pepohonan yang dihuni hantu-hantu karena tak sekali pun si raja pelit terpikir merawat mereka. Sebuah lubang khusus terlihat persis di dekat tombol bel di gerbang depan; lubang yang tersedia bagi siapa pun yang berniat mengantar barang untuk Ali Sapono. Lubang itu dibuat usai kejadian tergigitnya tukang pos itu dan mengamuknya warga lantaran sikap berlebihan seorang yang terlalu mencintai hartabenda.
Karena keberadaan tombol bel yang dekat dengan lubang itulah, ketika hendak memencet, Mudakir menyadari beberapa benda kiriman tergeletak begitu saja di tanah saking tidak muat lubang berupa saluran panjang itu demi menampung seluruh barang kiriman dari pos dan para kurir.
“Berapa lamakah seseorang mengambil kiriman untuknya dari kotak pos pribadi? Berapa lama sampai jadi sebanyak ini?” batin Mudakir. Ia memencet tombol bel.
Tak seperti rumor yang selama ini kerap disebar; tak ada suara senjata terkokang dari dalam sana. Mudakir masih keheranan atas situasi yang ganjil itu. Tamu yang berdiri di dekatnya gelisah. Mendadak saja perempuan itu meminta mereka membuka paksa gerbang rumah Ali Sapono.
“Saya bukan maling. Kita bukan maling. Kita tunggu sampai pemilik rumah keluar,” tukas Mudakir.
“Saya tidak yakin itu bakal terjadi.”