Kematian Raja Pelit

Dari sinilah identitas perempuan misterius itu terkuak. Ternyata, si raja pelit tidak benar-benar sebatang kara di dunia. Dahulu dia pernah menikah dan tentu memiliki beberapa anak. Sebagian besar anaknya meninggal, lantaran ia terlalu pelit mengurus mereka. Sebagian bertahan. Dua anak yang bertahan itu salah satunya minggat ke Eropa dan tidak sudi kembali, karena muak dengan masa lalu dan muak dengan kenyataan soal dari benih manusia jenis apa dia bisa muncul ke muka bumi ini. Satu anak lagi kini berdiri tepat di depan rumah ayahnya.

Mudakir mendengar penjelasan wanita itu sambil terbengong-bengong. Mereka tidak sadar telah duduk begitu lama di depan gerbang itu demi pengakuan dari seorang anak yang ingin menemui ayahnya sebelum ajal datang menjemput. Bagaimana si perempuan itu tahu betapa Ali Sapono akan mati dalam waktu dekat adalah dari satu telepon yang mengganggunya pada suatu siang bolong. Dalam telepon itu, lelaki yang lama tidak bertegur sapa dengan anaknya itu mengakui dia tidak tahan hidup begini. Dia tidak tahan dikucilkan, tetapi sekaligus tidak tahan membiarkan orang-orang berkeliaran seenak mungkin di dekat hartanya.

Suatu malam, Ali Sapono bermimpi kehilangan seluruh harta-bendanya dan jatuh miskin dan hidup telantar di kota-kota. Dia tidak sudi mati dengan kondisi begitu, tapi yakin betapa mimpi itu akan jadi nyata. Untuk itu, Ali Sapono tahu, waktu kematian yang tepat adalah saat masih benar-benar bisa melihat hartanya berada dalam pelukan. Tentu anaknya itu tahu: dia harus pulang untuk memastikan ayahnya baik-baik saja.

Setelah sekian kali bel dipencet dan tidak ada reaksi apa pun dari dalam sana, dua orang itu sepakat memanjat pagar rumah megah itu. Ada bagian yang tidak sarat jebakan di sisi yang berbatasan dengan sebuah pohon. Keduanya memanjat ke pohon itu, lalu dengan mudah berpindah ke bagian atas pagar dan turun ke sisi lain, tepat di halaman samping rumah Ali Sapono. Dari situ aroma tidak sedap terendus dan keduanya lari pontang-panting tanpa kata-kata mengikuti sumber bau, dan di sanalah Ali Sapono ditemukan; tergantung begitu saja dengan tubuh membusuk. Tergantung persis di bawah jendela kamarnya yang indah.

Sejak bertahun-tahun lalu, seluruh bagian rumah itu sepi dan hanya dihuni Ali Sapono. Siang itu, orang-orang berbondong mengikuti para polisi dan petugas forensik yang datang untuk mengurus jasad sang lelaki pelit. Orang-orang bukan tertarik ke soal bagaimana kondisi jasad si raja pelit saat ini, melainkan justru terpaku menatap betapa indah rumah yang dikurung benteng raksasa itu. Betapa siasia setiap jengkal dari rumah itu, karena tak seorang pun boleh menikmati, meski sekadar melihat.

Arsip Cerpen di Indonesia