Kematian Raja Pelit

Sampai sore, rumah Ali Sapono tidak henti disambangi orang-orang dari seluruh penjuru desa, dan mereka kini terpuaskan oleh rasa penasaran bertahun-tahun tentang bagaimana menjadi orang sekaya itu. Mereka kini dapat duduk di sofa, di meja makan, berbaring di kamarkamar, dan bahkan memakai WC duduk Ali Sapono yang dibuat dengan biaya mahal. Mereka juga bisa makan dari kulkas dan meja makan si raja pelit. Mereka bisa duduk-duduk santai dan menonton televisi bagaikan menonton layar tancap saja. Mereka dapat merasakan apa pun yang dulu hanya dirasakan Ali Sapono.

“Sayang sekali ya,” celetuk seseorang kepada seorang lain di depan televisi.

“Kenapa?”

“Sayang sekali. Ali Sapono hidup dengan kondisi senikmat ini, tapi tidak pernah benarbenar menikmati hidupnya.”

“Memang,” sahut orang ketiga yang tahutahu datang membawa satu stoples berisi keripik keju.

“Sepatutnya kita bersyukur hidup miskin, tidak kaya seperti tetangga pelit ini, kalau sepanjang hidup hanya dia habiskan untuk menjaga harta-bendanya.”

Tentu obrolan semacam itu terjadi di banyak titik di rumah itu, kecuali di satu titik tempat perempuan yang bertamu dari tempat jauh tadi menangis tersedu-sedu dan ditemani Mudakir serta seorang polisi yang tidak bisa berkata apa pun tentang kematian Ali Sapono. (28)

 

Gempol, 22 Maret 2019

Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Arsip Cerpen di Indonesia