Hari-hari setelahnya, ketika Mubin menanyakan peristiwa ajaib itu kepada Langkir, si Langkir malah tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Mubin. Lalu, ia menyebut Mubin berhalusinasi. Ia sendiri mengaku tak pernah menunggang kuda pagi-pagi, apalagi kuda bersayap.
“Itu sangat mustahil. Mungkin kamu ditipu jin,” ujar Langkir sambil mengulangi tawanya. Mubin terdiam, keningnya mengernyit, mengingat peristiwa yang ia lihat setiap pagi, ketika mereka sama-sama berada di tenda peperangan.
Masih dengan dada sangat yakin, keesokan harinya Mubin datang langsung ke lokasi tenda peperangan. Ia mendekat ke pohon beringin, mengetuk pohon itu dengan keras, berharap kuda Langkir keluar atau paling tidak meringkik. Tapi, pohon itu biasa saja, padat membisu, menampakkan kulit berkerut kasar dengan ceruk berisi getah yang mengering. Tanah di sekitar pohon itu pun datar dan sedikit berpasir, tak ada jejak kaki kuda.
Beberapa hari kemudian Mubin masih penasaran. Ia tak mengabaikan waktu untuk mengintai dari balik semak yang tumbuh di dekat pohon beringin itu. Dugaannya tetap tak meleset. Pagi-pagi sebelum matahari terbit, Langkir mengeluarkan seekor kuda putih bersayap dari pohon itu, sejenak kuda itu menari pelan sambil membuka sayapnya, diabai menyentuh embun di daun-daun. Saat itulah Mubin segera mendekati Langkir untuk bertanya perihal kuda itu. Tapi, begitu Mubin mendekat, kuda itu membawa Langkir dengan lesat yang cepat ke arah langit. Mubin bangkit di antara rimbun semak dengan raut wajah yang cemas. Kakinya melangkah pelan ke tempat kuda itu mengepakkan sayap. Sepasang matanya lurus menatap ke arah kuda terbang itu. Jantungnya berdetak kencang, bulu kuduknya meremang.
***
Pikiran Mubin selalu dibayang-bayangi kuda bersayap yang keluar dari pohon beringin dan ditunggangi Langkir setiap pagi. Sudah puluhan tahun—sejak kali pertama Mubin melihatnya hingga kini—, Langkir tetap tak pernah mengakui perihal itu, bahkan marah ketika didesak dengan pertanyaan itu. Ketika menceritakan hal itu kepada warga, Mubin malah ditertawakan dan diledek dengan sebutan suka mengkhayal. Padahal, nyaris setiap bulan Mubin selalu mengecek pohon beringin itu setiap pagi. Sepasang matanya tetap melihat peristiwa unik itu. Langkir mengeluarkan kuda bersayap dari dalam pohon beringin itu. Lalu, kuda itu terbang membawa Langkir ke langit.
“Tapi, kenapa orang-orang tidak percaya dan malah menuduhku suka berkhayal?” Mubin menopangkan wajah cemasnya pada tangan kanannya yang tegak di atas meja. Kepalanya pusing. Dia merasa tersiksa dengan peristiwa ajaib itu. Tebersit keinginan untuk mencoba menghapus ingatan peristiwa itu dari ingatannya.