Dua tahun setelah itu, barulah Mubin lupa total pada peristiwa itu. Saat itu tak ada lagi kuda bersayap dalam kepalanya. Ia kembali bekerja normal seperti biasa—setelah pensiun jadi prajurit keraton. Ia bekerja menjadi tukang pelitur meja di sebuah pabrik mebel. Waktu berjalan menyeret usia Mubin ke arah yang semakin renta. Wajahnya terlihat mulai dipenuhi garis keriput. Kulit lehernya kendur dan bergelambir. Sepasang matanya tampak lebih beku, seiring beberapa gigi depannya yang tanggal, dan rambutnya nyaris berwarna putih semuanya.
Tibalah suatu waktu, istri Mubin terserang penyakit jiwa. Ia selalu merasa ketakutan. Tak ada yang bisa dilakukan selain menangis. Tubuhnya gemetar, bersedekap seperti menggigil. Mulutnya lebih sering tertutup, hanya mau bicara barang seucap manakala didera dengan pertanyaan. Ia selalu berusaha berdiam di dalam kamar sambil terus berurai air mata. Matanya selalu cemas, seolah sedang menunggu giliran tiang gantungan.
Mubin sudah membawa istrinya ke beberapa tabib dan psikolog. Tapi, tak seorang pun yang bisa menyembuhkannya. Hari demi hari, istrinya hanya bekerja menguras air mata di dalam kamar pengap yang sunyi. Mubin menemaninya dengan perasaan gundah. Sambil lalu, dielusnya rambut istrinya, dan kadang ia menembakkan kecupan di kening istrinya. Tak jarang Mubin juga memeluk tubuh istrinya yang gemetar. Istrinya pun merebahkan kepalanya di dada Mubin, seperti tengah membagi ketakutan yang ia rasakan. Beberapa kali Mubin juga menangis sambil bertanya-tanya, gerangan apa yang bisa menyembuhkan penyakit istrinya.
Hingga tiba suatu malam, istrinya tiba-tiba berkata bahwa penyakit yang dideritanya akan sembuh apabila bisa menyentuh kuda bersayap. Pikiran Mubin kembali berputar-putar, ia berusaha kembali mengingat kuda bersayap yang telah lama lenyap dari kepalanya.
“Apa ada kuda yang bersayap, Kakang?”
“Iya, ada. Jangan khawatir,” Mubin menepuk bahu istrinya sambil tersenyum.
Keesokan harinya, Mubin dibantu sebagian tetangganya menyebar ke berbagai daerah untuk mencari kuda bersayap. Menyinggahi dusun demi dusun sambil coba bertanya perihal kuda bersayap itu. Tapi, semua orang menyatakan bahwa kuda bersayap itu cuma ada dalam cerita, tak ada di dunia nyata. Mubin dan teman-temannya ditertawakan.
Pada suatu hari, Mubin teringat pada pohon beringin raksasa yang pernah dijadikan kandang kuda bersayap oleh Langkir. Ia segera ke sana, melintasi tiga desa ke arah selatan dengan sepeda onthel kebanggaannya. Ia masih ingat lokasi pohon itu, tepat di sebelah barat sebuah tugu. Berharap kuda bersayap itu masih berdiam di sana. Setiba di lokasi, Mubin terkejut, ia tak melihat pohon itu lagi. Seseorang yang sempat ditanyai mengabarkan bahwa pohon itu telah lama ditebang. Kini di lokasi itu telah berdiri sebuah ruko.