Kuda Bersayap

Mubin tak kehabisan akal, ia langsung memutar haluan, mengayuh sepeda tuanya ke rumah Langkir yang berjarak puluhan kilometer ke arah barat dari lokasi itu. Setiba di rumah Langkir, Mubin kembali terkejut. Langkir mengalami gangguan jiwa, ia hanya tertawa dan berjoget semaunya. Tubuhnya kurus kerempeng, menguar bau tak sedap. Rambutnya awut, dimukim banyak kutu. Kukunya panjang hitam dan berdaki. Mubin meringis melihat keadaan temannya itu. Saat Mubin bertanya perihal kuda bersayap itu, Langkir menjawab bahwa kuda itu kini ada dalam tubuhnya. Mubin bergidik, lalu pulang dengan perasaan cemas.

Beberapa hari kemudian, pada suatu pagi yang gerimis, Langkir datang ke rumah Mubin, masih dalam keadaan gila, tertawa dan berjoget semaunya. Bau tubuhnya sangat menyengat. Dan tanpa diduga, istri Mubin tiba-tiba keluar dari dalam rumahnya dan berlari ke arah Langkir, lalu memeluknya dengan sangat mesra.

“Inilah kuda bersayap yang aku cari,” ucap istri Mubin seraya mencium kening Langkir. Lalu, keduanya tertawa.

Sepasang mata Mubin terbelalak melihat istrinya berpelukan dengan Langkir di hadapannya. Hati Mubin sangat sakit. Kuda bersayap itu seperti masuk ke dalam dadanya, mengentak-entak, meringkik-ringkik, dan meluluhlantakkan semua yang ada.

 

Gaptim, 24 Maret 2019

A Warits Rovi Lahir di Sumenep, Madura, 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, dan artikel dimuat di berbagai media nasional dan lokal. Bukunya, Dukun Carok & Tongkat Kayu, terbit pada 2018.

Arsip Cerpen di Indonesia