Senyum untuk Bagas

“Ya, itu benar,” Bagas mengiyakan.

“Kamu tak ikut pindah kan?” suaraku tersendat. Semoga kekhwatiranku tidak terjadi. Bagas tidak ikut pindah.

Bagas menggeleng. “Semua keluargaku pindah. Tak mungkin aku sendirian di rumah.”

Aku menatap Bagas. Begitu juga Ardan. Kesedihan mewarnai hati kami. Kami akan kehilangan sahabat sebaik dia. Bagas lalu menceritakan alasan kepindahan keluarganya. Ayahnya yang sudah lama bekerja di Riau yang menginginkan.

“Riau itu sangat jauh, Gas…” mata Ardan berkaca-kaca.

“Kita tak akan ketemu lagi. Kita tak akan bermain bersama lagi,” mataku pun ikut berkaca-kaca. Aku tak sanggup menahan kesedihan ini.

Bagas menatap kami satu per satu. Wajahnya pun tak ceria. Tampak menanggung kesedihan yang dalam.

Beberapa saat kami bertiga terdiam, tak mengeluarkan kata-kata. Hanyut dengan perasaan masing-masing. Tiba-tiba, salah satu dari kami tersenyum. Bagas yang senyum.

“Lebih baik, pertemuan kita kali ini kita isi dengan bergembira ria, Yu?” kata Bagas berubah seru. Aku dan Ardan saling lirik. Kepala pun mengangguk. Kami bertiga tertawa bersama. Ah, indahnya kebersamaan kami. Sayang tak lama lagi. Bagas akan segera pergi jauh ke pulau lain.

“Aku pergi hari Senin sore!”

“Kami akan menemuimu dulu sebelum kamu pergi!” kataku dan Ardan. Kami pun kembali ke sekolah.

Dua hari kemudian, tepatnya hari Senin pada jam istirahat, aku dan Ardan pergi lagi ke rumah Bagas. Kami bermain selama jam istirahat. Saling bertukar cerita disertai senda gurau. Tak terasa, waktu istirahat hampir habis.

“Maapin segala kesalahanku, Bagas!” aku memegang lengan kanan Bagas.

“Aku juga! Aku sering jailin kamu!” Ardan tak mau ketinggalan. Memegang lengan kiri Bagas.

“Kalian tak pernah bikin kesalahan sedikit pun sama aku!” bola mata Bagas membesar. Senyumnya mengembang.

“Kamu tak sedih kita sebentar lagi berpisah?” aku mencandainya.

“Siapa bilang?” Bagas menatapku. “Tentu saja aku sangat sedih, Albani.

Sama seperti kalian. Tapi jika aku terus sedih, kepindahanku akan sia-sia. Karena selalu membawa kesedihan.”

Arsip Cerpen di Indonesia