Aku balas menatap Bagas. Aku mulai mengerti ucapannya. Benar, seharusnya aku mengiringi kepergian Bagas dengan kegembiraan. Agar Bagas senang.
“Kita kembali ke sekolah, Yu?” Ardan melirik jam di pergelangan tangannya.
Aku memegang bahu Bagas. Lalu kami saling berjabat tangan. Setelah itu giliran Ardan. Hatiku tak tahan menahan kesedihan. Namun aku tak boleh memperlihatkannya di depan Bagas.
“Semoga selamat sampai tujuan!” kataku. Bagas mengangguk dan menatapku. Seulas senyum di bibirnya. Aku pun membalas senyumannya. Kuulas senyuman semanis mungkin untuknya. Senyum untuk Bagas. Aku tak akan pernah melupakan persahabatan dengannya. Selamat jalan, Bagas sahabatku! bisikku sendu dalam hati.