“Maaf, Kiai. Saya memberanikan diri kembali ke sini. Saya melihat Kiai sedang bersedih. Mungkin Kiai memerlukan bantuan?” tanya anak muda itu.
“Eh, kamu Sukiran,” sahut Sadrach sedikit kaget.
“Saya Kiai.”
“Apakah kamu akan berhenti berjuang jika sekarang ini aku mati?”
“Saya tidak mengerti maksud Kiai.”
“Ada yang tidak suka dengan kita. Dan celakanya mereka sama-sama murid Gusti.”
“Bukankah sesungguhnya itu hanya perasaan iri, Kiai?”
“Ah, kamu ada-ada saja.”
“Saya sungguh-sungguh, Kiai.”
Sadrach diam sejenak. Pandangan matanya kembali mengarah ke depan. Warna jingga di awan mulai memudar disaput gelap. Malam memang benar-benar segera datang.
“Kamu benar,” kata Sadrach kemudian.
“Maaf, Kiai,” sahut Sukiran.
“Kamu mungkin benar.”
“Perihal apa, Kiai?”
“Tentang iri yang kamu katakan tadi.”
Lalu Sadrach berbicara banyak kepada Sukiran, bahkan dengan sengaja Sadrach akhirnya menitip pesan kepada Sukiran agar menyampaikan kepada jemaat untuk tetap bersatu jika nanti ada sesuatu yang menimpa dirinya saat memenuhi panggilan tersebut. Malam itu juga Sadrach berangkat menemui pengurus Gereja N. G. Z. V ditemani Sukiran sampai di perbatasan wilayah. Sesampainya di kantor itu, Sadrach langsung menemui Bieger di ruang kerjanya. Di ruang itu terjadi perbincangan serius di antara mereka.
“Kamu tahu maksud surat saya?” tanya Bieger.
“Saya kurang paham,” jawab Sadrach.
“Apa kamu ingin memisahkan diri dari gereja ini?”
“Saya tidak pernah punya keinginan seperti itu.”