Bieger tampak seperti tidak sabar saat mendengar jawaban Sadrach atas pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan. Lalu dia menjelaskan langsung pada intinya, apakah Sadrach bersedia memercayakan jemaatnya kepada kepengurusan gereja di N. G. Z. V yang dipegang dirinya. Sadrach menanggapi pemikiran itu dengan penjelasan bahwa keputusan para jemaat dalam mengikuti dirinya bukan atas dasar paksaan. Mereka melakukan itu dengan sukarela dan inisiatif mereka sendiri.
“Jadi kamu menolaknya?” tanya Bieger.
“Anda tidak mengerti yang saya maksud rupanya,” sahut Sadrach.
“Lalu maksudmu apa?!” tanya Bieger dengan nada meninggi.
“Begini saja, jika Anda bisa mengajak mereka, saya ikhlas dan rela.”
“Kamu menantangku?”
“Anda sendiri yang mengatakan, bukan saya.”
“Saya bisa membuatmu dipenjara!”
“Jika Anda memang ingin melakukan itu, lakukanlah.”
Mendengar Sadrach mengatakan begitu, Bieger langsung berlalu meninggalkan ruangan itu dengan wajah merah. Rupanya Bieger menuju ruang lain yang ada di kantor itu. Di sana dia menulis sebuah surat. Begitu surat itu selesai ditulis, dia menemui seseorang di samping gedung kantor. “Cepat, antar surat ini pada alamat tersebut!” perintah Bieger kepada orang itu.
Serdadu utusan dari Residen Bagelan datang ke kantor N. G. Z. V. Mereka membawa sepucuk surat yang akan disampaikan kepada Sadrach, yang nantinya Sadrach menamai surat itu sebagai Surat dari Barat. Ketika Sadrach menerima kedatangan serdadu itu, dia merasa heran, mengapa mereka tahu saat itu dirinya berada di kantor N. G. Z. V. Meski begitu, Sadrach tidak terlalu memedulikan. Setelah surat dari residen diterima, dia langsung membacanya di hadapan para serdadu itu.
Sadrach langsung membaca bagian inti surat tersebut. Dalam surat itu, mereka mengatakan bahwa menurut pengamatan dan analisis yang mereka lakukan, termasuk perihal peningkatan jumlah jemaat Sadrach yang tidak seperti pada umumnya, mereka mencurigai bahwa kegiatan jemaat itu tidak melulu membahas masalah keimanan belaka. Intinya, Sadrach dianggap sebagai ancaman politik W. Ligtvoet, Residen Bagelan, wakil dari pemerintahan Belanda di wilayah itu.
Atas dasar anggapan tersebut, mereka tidak ingin kecolongan, lalu memberi tugas kepada para serdadu untuk menangkap dirinya. Sadrach benar-benar ditangkap. Selama tiga bulan Sadrach akhirnya ditahan. Di dalam penjara, Sadrach diberi tugas sebagai tukang bersih-bersih di sekitar lingkungan penjara. Alat yang sering dipakai untuk menjalankan tugasnya itu salah satunya adalah sapu. Dari kisah itulah Sadrach menemukan makna dari simbol sapu dan lidi.