Untuk selanjutnya, karena mereka tidak menemukan cukup bukti untuk mengajukan ke pengadilan, akhirnya Sadrach dibebaskan dengan keputusan Gubernur Jenderal yang tertanggal 1 Juli 1882. Justru karena tidak ada protes dari Sadrach dalam menjalani hukuman itu, dan pihak Belanda tidak menemukan apa yang membuatnya risau, akhirnya mereka menjadi takut jika kisah itu justru akan membuat pengikut Sadrach semakin banyak.
Saat Sadrach keluar dari penjara, tak sedikit pun dia merasa takut. Dia langsung melakukan tugasnya lagi. Ajaran yang dia sampaikan memakai simbol-simbol. Hal itu bukan terletak pada bagaimana ajarannya, tetapi lebih pada konsep yang digunakan untuk menyampaikan ajaran itu. Simbol yang sering dipakai Sadrach adalah simbol-simbol yang sebenarnya telah hidup dan berlaku di masyarakat Jawa. Simbol yang saat itu sedang populer adalah simbol lidi dan sapu. Sadrach membagikan sebuah lidi kepada masing-masing pribadi yang terbagi dalam 80 kelompok jemaat. Dari sana dia memberikan pandangan kepada mereka, jika semua lidi yang dia bagikan kepada seluruh jemaat itu disatukan, lidi-lidi itu akan terikat satu dengan yang lain menjadi sapu yang kuat. Dalam keimanan mereka, sapu diibaratkan sebagai pribadi Yesus.
Di suatu sore, usai acara ibadah, terjadi obrolan antara Sadrach dan para jemaatnya. Salah satu obrolan itu mengenai simbol lidi dan sapu. Intinya, mereka menanyakan apakah simbol lidi dan sapu yang Sadrach kemukakan hanya untuk menggambarkan pribadi jemaat dan pribadi Yesus. Sadrach langsung tersenyum tetapi tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia justru memberi sebuah pertanyaan balik kepada mereka. “Jika ada bangsa lain yang ingin merebut kedaulatan wilayah Tanah Air kita ini, apakah kalian akan diam saja?” Mendengar pertanyaan itu, memang tidak ada jemaat yang menjawabnya, tetapi sebagian besar dari mereka terlihat mengangguk-anggukkan kepala. ●
Yuditeha menulis puisi dan cerita. Kumpulan cerpen terbarunya Cara Jitu Menjadi Munafik (Stiletto, 2018). Novel karyanya antara lain Tjap (Basabasi, 2018) dan Tiga Langkah Mati (Penerbit Buku Kompas, 2019). Novelnya, Imaji Biru, meraih juara pertama Lomba Novel Jejak Publisher (2018). Aktif di Sastra Alit Surakarta dan pendiri Kamar Kata Karanganyar.