Ia kian gelisah terbayang bapak yang sebelumnya menelepon sambil nangis. Saat memikirkan cara agar pintu kamar kos tetangganya itu terbuka sementara si pemilik kos tidak punya kunci cadangan, pada saat Uba menunduk memegangi sepatunya yang rusak mendadak ada lubang kecil menangkap bola mata Uba sampai jantungnya berdebar dahsyat. Uba mengintip. Dilihatnya suatu hal aneh. Suatu yang tak biasa. Sesuatu yang telanjang kaku membuat dirinya merinding dengan perasaan sakit menjalari tubuh.
Daging Ihut mengisut. Penuh bercak merah kehitaman dan aroma basi mulai menguar ke sekitar. Uba sama sekali tidak ingat kapan terakhir kali bertegur sapa dengan tetangga kosnya, padahal jarak mereka hanya sebatas lembaran papan. Berdasarkan peristiwa inilah Uba berhenti bekerja lalu pulang kampung selamanya. Tetangga kos yang tinggal di tengah-tengah keramaian ibukota saja bisa tidak diketahui kondisinya. Apalagi bapak yang hidup berjauh-jauhan dengan para pemilik kebun: bisa mendapat belulang bila begini, pikir Uba, ngeri.
Uba mengoles balsem ke leher, dahi, tengkuk serta bagian belakang pinggangnya. Selanjutnya ia arahkan botol balsem ke hidung. Ia hirup, ia pejam mata. Ia tutup botol balsem, ia simpan ke saku lalu rapatkan jaket dan kenakan topi. Kaca bus di sisi kiri ia tutup habis. Cuaca tampaknya membuat ia melakukan ini: ada percikan petir menggores pelangi di utara.
Setelah bus yang ia tumpangi istirahat makan siang ia minum empat butir obat sekaligus. Ia berharap tidur selama perjalanan agar segar saat nanti jumpa bapak. Ia tak perlu cemas tidak sampai atau bus lupa menurunkan dirinya di tempat seharusnya. Ia sudah bilang ke pak supir serta kerneknya.
Dari kejauhan Uba melihat seluruhnya hijau. Itu kebun salak masyarakat desa. Di tengah-tengah kebun itu ada jalan tanah menuju kebun bapak, tempat dulunya ia dilahirkan. Uba sempat kepikiran di posisi mana di kebun itu dulu lelaki yang akan ia temui sebentar lagi menanam ari-arinya. Apakah di bawah pohon nangka yang kini berusia tiga puluh lima tahun lalu mungkin akan ditebang bapak karena pohon itu mati begitu saja?
Satu jam melewati hamparan salak dengan berjalan kaki senyum Uba mengembang. Gubuk tidak terlampau jelek. Di bagian belakang ada kandang, itu mungkin kandang ayam. Nanti kuminta bapak memotong salah satu ayam jago itu, pikirnya. Ia merasa terharu membayangkan bagaimana nanti dirinya menggigit daging di sekitar betis ayam sampai ke jari-jarinya dan ia akan meretakkan tulang ayam untuk mengisap yang terasa gurih di dalamnya. Bila orang gemar makan betis ayam, kelak, merantaunya sering lupa kampung halaman, kata bapak waktu itu. Uba tak percaya. Itu hanya akal-akalan bapak saja karena bapak suka juga betis ayam. Sekarang ia merasa bersalah. Sepuluh tahun merantau baru tiga kali menjenguk kampung, itu pun karena bapak pura-pura sakit.