“Bapak!” Uba mendekati bapak yang waktu itu menangkap anak-anak ayam untuk dimasukkan ke kandang. Bapak tak jawab. Uba berpikir barangkali bapak sudah mulai tuli karena jarang ada yang mengajak bicara. Di kebun hanya ada pepohonan. Hewan ternak dan berbagai jenis binatang.
“Anju!” Uba menamai bapak dengan cara kurangajar seolah ia itu masih anak kecilnya yang baru pintar bicara.
Dilihatnya sekeliling, semua sudah berubah. Batang nangka meranggas. Ranting-ratingnya rontok. Ia lihat ada yang jatuh nyaris mengenai kepala bapak dan ia teriak sekeras-kerasnya. Saat Uba menepuk bahu di depannya sembari berdebar-debar menunggu reaksi ia yakin bapak pasti masih pura-pura. Awas saja nanti, pikirnya geli.
Uba lalu melempar ransel dan berdiri tepat di depan bapak. Ia menunggu lelaki kering itu selesai menangkapi anak-anak ayam. Tak peduli bila nanti bapak menganggap dirinya bocah yang perlu ditarik daun telinga atau lengannya ditinju lebih keras lalu ia sangat suka dikejar-kejar sampai bapak kelelahan.
“Bapakku,” kata Uba. Bapak tinggal menunggu ayam besar-besar saja datang sendiri karena masih sibuk mencari telur-telur semut di sekitar pokok salak.
Dari belakang Uba memeluk lelaki kesayangannya itu erat-erat. Aku pulang, Pak, bisiknya. Namun yang terjadi kemudian hanyalah gubuk ditutup perlahan oleh bapak. Bunyi krek di pintu membuat Uba terpukul. Tatapannya berubah sendu. Dari kejauhan ia lihat bayangan dirinya berjalan menembus pintu, menembus bapak. ***
Riau, September 2017
Jeli Manalu lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku terbarunya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu”.