Rimba

Sudah banyak bukti ramalan Mbah Samijan sering menjadi kenyataan. Seperti yang terakhir, ketika Tukimin, anak bungsu Mang Sapardin hilang seminggu yang lalu. Orang-orang mencari ke semua lekuk kampung Bondol, namun bocah itu tak kunjung ditemukan. Barulah ketika beberapa orang berpetuah pada Mbah Samijan, keberadaan Tukimin mendapat titik terang. Mbah Samijan mengatakan, bocah itu berada di bawah jembatan sungai Widas. Dan benar saja, ketika orang-orang berbondong menuju tempat itu, jasad Tukimin ditemukan.

Selain itu tentu saja, banyak lagi peristiwa yang membuktikan ramalan Mbah Samijan tak bisa diremehkan. Dan, lantaran kenujuman-kenujumannya itulah, Mbah Samijan menjadi tempat meminta petunjuk bagi orang-orang. Persis seperti yang dilakukan Darmanto. Dia bertandang ke rumah Mbah Samijan untuk menanyakan rencana pernikahannya dengan Mayang.

Darmanto ingin tahu seperti apa rumah tangganya di masa depan. Apakah bahagia ataukah tidak. Darmanto juga penasaran, hal apa saja yang perlu dia lakukan agar biduk rumah tangganya tak mendapat halang rintangan. Tapi jawaban yang dia terima, alih-alih menenangkan, malah mencengangkan.

“Tolonglah, jangan menakutiku begitu, Mbah,” kata Darmanto murung. “Mbah ‘kan tahu, aku ini akan menikah. Kalau ternyata istriku tak punya bulu kemaluan, tak mungkin pula pernikahanku dibatalkan.”

“Aku sekadar mengingatkan,” jawab Mbah Samijan tenang. Dia seolah tahu pertanyaan yang berkecambah di kepala Darmanto. “Itu juga kalau kamu percaya. Kalau tidak, ya, tidak apa-apa.”

“Aku percaya, Mbah, aku percaya,” sahut Darmanto gentar. “Tapi apa mungkin semua laki-laki yang hidup menderita setelah menikah itu karena istrinya tak punya rimba?”

“Aku tidak membicarakan semua laki-laki. Aku membicarakanmu,” seloroh Mbah Samijan sambil menjentikkan abu rokoknya ke asbak tanah liat di atas meja. Telunjuknya lurus menuding ke wajah Darmanto.

“Aku melihat syarat itu di wajahmu. Kalau kamu ingin hidupmu bahagia dan jauh dari bala, ya hanya itu syaratnya. Menikahlah dengan perempuan yang punya rimba.”

“Kalau tidak ada, bagaimana?” tanya Darmanto sekonyong-konyong.

“Tidak mungkin. Pasti ada!”

Darmanto menghela napas panjang. Dia menggaruk kepala. “Kalau nanti ternyata istriku tak punya, apakah aku mesti menceraikannya?”

Arsip Cerpen di Indonesia