Rimba

Mbah Samijan tergelak. “Tak perlu risau, Darmanto. Percayalah padaku. Calon istrimu itu pasti punya rimba. Tenang saja ha ha ha ….” jawabnya sambil menepuk-nepuk pundak Darmanto.

***

Sejak mendengar ramalan Mbah Samijan, mau tidak mau Darmanto jadi kepikiran juga. Bahkan boleh dibilang ramalan itu membuatnya bimbang. Sebagai pemuda yang sedang bersiap melepas masa lajang, perkara hidup bahagia tentu menjadi tujuan. Namun persoalannya, letak dari kebahagiaan itu sungguh tak masuk di akalnya.

Darmanto belum menemukan cara untuk mengetahui apakah Mayang, calon istrinya itu memiliki rimba ataukah tidak. Darmanto malu jika harus bertanya. Dia juga tak punya nyali untuk memungkasi rasa penasarannya dengan mengendap-endap di sekitar tempat pemandian atau mengintip gadis itu berganti pakaian. Darmanto tak sanggup menerima risikonya: dihajar orangtua Mayang atau yang lebih gawat lagi, dihajar sampai sekarat seperti nasib Udin Gembala yang kepergok tengah mengintip anak gadis Bude Sum yang sedang mandi di Sendang Galuh beberapa bulan yang lalu.

“Menurutmu, apakah mesti kutanyakan saja pada Mayang, ya, Man?” tanya Darmanto kepada Rahman. Rahman ini kawan akrabnya. Apa pun permasalahannya, Darmanto senang membaginya pada Rahman. Rahman kerap memberi jalan keluar yang cerdas dan kadangkala luput dari  pemikiran Darmanto.

“Ya, ada baiknya kamu tanyakan saja,” sahut Rahman yakin. “Lagi pula ini untuk kebaikan kalian berdua.”

“Maksudmu?”

“Ya, kalau ternyata—eem, maaf ini ya, kalau ternyata benar Mayang tak punya rimba, bukankah kata Mbah Samijan hidupmu bakal sengsara? Karena itulah kupikir, sebaiknya kamu memang mesti bertanya. Setidaknya kalau betulan dia tak punya rimba, kalian bisa cari obat penyuburnya ha ha haa….”

“Sial!” maki Darmanto sambil mencengkram puncak kepalanya. “Tidak mungkin aku membatalkan pernikahanku cuma gara-gara persoalan ini. Bisabisa aku jadi bahan tertawaan orang-orang.”

Rahman menatap wajah gusar Darmanto dengan prihatin. “Ya, jangan sampai begitu. Undangan sudah disebar, jangan sampai juga kamu batalkan. Kalau sampai dibatalkan, bukan cuma kamu yang malu, tapi juga keluargamu dan keluarga Mayang. Pikirkan itu.”

Darmanto tak menjawab. Dia hanya mengangguk. Pemuda itu bersetuju dengan saran yang diberikan Rahman. Memang itulah yang harusnya dia lakukan; membicarakan baik-baik dengan Mayang. Lagi pula bagi Darmanto, menikah bukan perkara setahun dua tahun belaka. Menikah itu cukup satu kali seumur hidup dan, kalau bisa, selamanya. Setelah memikirnya berulang kali, Darmanto sampai pada satu kesimpulan: dia memang harus menemui Mayang.

***

Arsip Cerpen di Indonesia