Rimba

Pagi-pagi sekali Darmanto datang ke rumah Mayang. Ayah dan Ibu Mayang kebetulan sedang tidak ada di rumah. Adik-adik Mayang juga sudah berangkat ke sekolah. Suasana rumah yang sepi membuat Darmanto sedikit lega, sebab dia tak perlu takut ketahuan jika bertanya yang anehaneh pada Mayang. Dengan malu-malu, Darmanto menceritakan semuanya. Awal dia bertemu Mbah Samijan, hingga hasil ramalannya.

Mayang mengangguk-angguk. Rambut panjangnya turut berayun mengikuti gerak kepalanya. “Aku mengerti,” katanya sembari menahan senyum. “Aku mengerti kecemasanmu. Tapi aku rasa, belum saatnya kamu tahu jawabannya.”

“Kenapa?” sergah Darmanto memaksa. “Menurutku sebaiknya kamu katakan saja.”

“Kenapa kamu bicara begitu, Mas?” tukas Mayang naik pitam. “Kamu mau menikahiku atau mau menikahi bulu kemaluanku?”

Darmanto terbelalak.  Pemuda itu terperanjat melihat reaksi yang ditunjukkan Mayang, lebihlebih mendengar pertanyaannya. Dia mengerang lirih dan geleng-geleng kepala. Darmanto tak bisa menjawab pertanyaan itu. Lidahnya memberat serupa batu.

“Ya sudah kalau begitu. Aku minta maaf,” kata Darmanto merunduk malu.

Mayang tak menjawab. Gadis itu mendengus, lalu meninggalkan Darmanto terpaku di ruang tamu. Selanjutnya, pemuda itu memutuskan untuk menyerahkan jawabannya pada nasib. Dia tak berhasrat lagi mencari tahu. Darmanto mengubah keyakinannya dan akan menjalani pernikahan tanpa perlu mencemaskan ramalan Mbah Samijan. Meskipun diam-diam, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Darmanto masih berharap Mayang punya rimba di kemaluan.

***

Siang itu kampung Bondol ramai. Darmanto dan Mayang melangsungkan pernikahan. Suara organ tunggal terdengar riuh. Orang-orang bersuka cita dan mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Pesta itu sebenarnya berlangsung cukup meriah, namun tidak bagi Darmanto. Pernikahan itu terasa berat baginya. Di atas kursi pelaminan, sepanjang pesta dilangsungkan, pemuda itu tampak gelisah.

Hingga waktu pun bergulir menuju sore, sore pun beringsut menuju malam. Di kamar pengantin, seusai pesta digelar, Darmanto dan Mayang bersiap melakukan ritual sakral malam pertama. Terngiang-ngiang di telinga Darmanto ramalan Mbah Samijan saat Mayang melepas pakaian.

Arsip Cerpen di Indonesia