Darah

Kemarin, tatkala di hutan, sedang beristirahat dalam persembunyian, hendak kembali lagi ke kampung, mereka mendapati kami. Kami tertangkap!

Saya melihat langsung di hadapanku, orang yang selama ini gerombolan itu sanjung, orang yang menjadi pemimpin mereka, Kapten Jufri. Ia memang menakutkan seperti yang digambarkan selama ini, bahkan lebih dari itu. Badannya yang tinggi, besar, kekar, dan tatapannya yang tajam ibarat sembilu, sungguh menyeramkan. Para pengikutnya pun terlihat garang seumpama anjing yang tidak pernah mengendus tulang.

Jumlah mereka sangat banyak, kira-kira lebih dari seratus orang. Saya hanya menunduk dan sekali-kali menengkok ke arah mereka, yang tampaknya tidak seperti manusia lagi. Dengan keberingasannya, mereka juga berhasil membawa para pemuda dari Enano yang tidak sempat melarikan diri ketika gerombolan itu datang. Berikut sandera dari Pulau Talaga yang sebelumnya melarikan diri ke Baubau. Mereka ditangkap oleh mata-mata yang sudah diajak bekerja sama di jawatan kepolisian.

Saya berpikir bagaimana bisa para pembesar di Baubau mau bekerja sama dengan gerombolan yang mengaku Tentara Islam Indonesia (TII) ini. Apakah mereka tidak suka bila kita merdeka sebagai bangsa Indonesia? Tapi mengapa mereka mengabari kita ketika awal-awal kemerdekaan untuk mengibarkan kain Merah-Putih? Apa sebenarnya yang mereka mau?

Saya juga dibuat terkejut ketika melihat Tekundidi yang berasal dari Kampung Tedubara. Kabarnya ia ditangkap saat hendak kembali ke kampungnya, ketika pulang dari Tangkeno. Ia juga tidak berdaya. Kata Kapten Jufri, Tekundidi berusaha lari, namun ia dikepung oleh anak buahnya dan ia ditangkap lalu diseret seperti hewan buruan.

***

Kini malam hampir tiba dan kami semakin layu. Kasuami yang kalian siapkan kemarin untuk kami jadikan bekal, sudah tidak tersisa. Sebenarnya masih cukup untuk sampai ke Kabaena bila saja kami tidak tertangkap. Namun apalah daya, gerombolan itu sudah mengambil semuanya. Dalam keadaan itu, kami tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya bisa saling menatap. Kulihat wajah Nuhung sangatlah lesu. Sesekali ia berusaha tersenyum, tetapi matanya tidak bisa menyembunyikan kesedihan. Seorang imam yang selama ini selalu memberi perlindungan dan menguatkan warga di kampungnya kini tidak bisa berbuat apa-apa. Pastilah ia malu dan marah serta merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri. Hanya saja, apa yang dapat ia perbuat, pasukan Kapten Jufri tidak suka berbicara banyak dan bertele-tele. Mereka bilang dalam revolusi bukanlah mulut yang berbicara, tetapi darahlah yang akan bercerita. Jadi, siapa pun yang menghendaki revolusi mereka harus menanyakannya pada genangan darah orang-orang yang coba melawan.

Arsip Cerpen di Indonesia