“Kita lari saja,” ajak Tekundidi.
“Bagaimana caranya?” ucapnya sedikit terkejut.
“Langsung saja lari, tidak masalah tangan kita terikat, lagi pula kaki kita tidak. Kalau kita terus di sini untuk menunggu kesempatan lari, bisa saja kita tidak akan pernah dapat kesempatan itu.”
Tanpa banyak bicara lagi, hanya dengan kerlingan mata, kami langsung berlari. Saat lari mereka melihatku, dan segera mengejar dan menangkapku. Saya diseret dan diikat di bawah pohon jambu. Begitu pula dengan Tekundidi yang tidak baik juga nasibnya. Teman-temanku terkejut, muka mereka tampak sedih menatap kami.
Kapten Jufri kini berdiri dan bergegas mendatangi kami berdua. Ia sangatlah marah, mengambil parangnya dan ia letakkan di leherku. Hanya sedikit disentuhnya, namun darah sudah keluar, begitu tajamnya parang itu. Sementara Tekundidi, diseret dan dipukuli oleh anak buah Kapten Jufri karena sejauh ini sudah dua kali mencoba untuk melarikan diri.
“Siapa pun yang coba-coba lari akan saya tebas lehernya. Kalian tidak perlu coba-coba untuk lari dari sini. Kita akan menjadi bagian penting dalam sejarah. Kalian tidak usah pikir dulu istri dan anak-anak kalian, mereka tidak apa-apa di sana. Setelah revolusi, barulah kalian boleh kembali kepada mereka. Tapi sekarang, jangan dulu berpikir begitu dan jangan coba-coba lari! Jangankan untuk lari, berpikir untuk lari pun saya tahu isi kepala kalian.”
“Mereka berdua ini akan menjadi peringatan untuk kalian yang mencoba lari,” Kapten Jufri geram.
Tanganku kini diikat semakin kencang, dan tanpa berlama-lama lagi, kini leherku digerek. Perlahan-lahan darah mengaliri sekujur tubuhku.
Dalam keadaan itu, saya mengingat kemarin saat meyakinkan dirimu sebelum pergi bahwa saya akan kembali, sekali pun darah di leherku terus saja mengalir, dan sakit yang saya rasakan semakin menakutkan. Napasku tersengal, tenggorokanku kini kering sama sekali. Bajuku yang semula berwarna kuning berubah merah penuh darah. Darah bercampur dengan keringat dinginku. Mataku kini sudah terpejam sepenuhnya dan hampir lupa semuanya.