Sebulan yang lalu aku mencoba bersantai di pantai ini, tidak kusangka aku malah berjumpa dengannya. Entah apa yang membawanya ke sini dengan kebiasaan barunya yang baru aku lihat, memandang Barat ke arah pulau Jawa. Aku yakin itu ingatan pada mantan pacarnya semasa kuliah tapi ia tidak pernah mengakuinya. Sudah hampir satu bulan aku korek, tidak juga ia mengaku.
“Aku memang masih penasaran, kenapa kau begitu khusuk memandang ke arah Jawa,” kataku geli.
“Aku tidak memandang sejauh itu, aku hanya memandang laut. Harus berapa kali aku katakan!”
Ia masih saja menyembunyikannya, beralasan hanya memandang laut. Aku tahu benar ia memandang lebih jauh dari sekadar laut. Setidaknya pikirannya sampai ke sana.
Manusia memang tak pernah puas dengan keadaan, semua serba kurang. Aku juga seperti itu, itu kenapa aku paham apa yang ada di kepalanya, terlebih ia teman terbaikku. Mengingat mantan pacar, bagiku itu hal yang membosankan, tiga puluh tahun hidup dan mengingat jauh ke belakang.
“Oke, kuanggap kau hanya memandang laut, tapi aku juga penasaran dengan hal itu.”
“Aku juga sudah menjawab itu, kan? Kau masih ingat dua belas April, sebulan lalu, pertama kita kembali jumpa di kota ini. Tempat ini, di meja yang sama dengan posisi yang sama, tanpa melihatmu aku yakin kau dengan ekspresi yang sama.”
Dua belas April, aku mengingat itu dan benar, semua serba sama bahkan ekspresiku pun sama. Saat itu ia katakan bahwa ia mengagumi laut, aku permainkan pikiriannya, kukatakan itu adalah cinta. Ia tidak terima, dan seperti biasa kami berdebat tanpa ia pernah mau menjawab beda antara keduanya. Kurasa ia sadar dan membalikkan permainan, mempermainkanku dengan menyuruhku berpikir sendiri. Aku bukan orang yang suka menguras energi dengan membebani pikiran.
“Dan kau ke sini, menjumpaiku, berulang-ulang, hanya untuk menanyakan perbedaannya?” katanya lagi
“Kau tau siapa aku, tak suka teka-teki,”
Ia kembali menarik napas panjang, menghembuskannya, kali ini sangat perlahan. Angin kembali datang, ia kembali mengetuk-ngetukkan jarinya yang seperti detik jam menyatu bersama deru daun-daun. Sedari tadi, kepala dan matanya masih saja tak beranjak, ia masih seperti mengakukan dirinya ke arah laut.