Monolog

“Ternyata kau benar-benar tidak mengerti, kau bertanya kenapa aku mencintai laut. Tidak, aku hanya mengaguminya. Kau mempermasalahkan itu, menyamakan antara kekaguman dan kecintaan, lalu menanyakan perbedaannya. Kenapa kau tidak mencari jawaban dalam dirimu sendiri; memikirkan mantan istri, selingkuhan, mantan pacar dan wanita-wanita yang kau siuli. Mana yang kau kagumi, kau cintai dan kau sayangi?”

Aku benar-benar emosi, semakin emosi. Kenapa ia begitu santai mengatakan itu, tidakkah ia sadar bahwa itu sudah sangat menggangguku.

“Kalau kau berhasil menjawabnya, kurasa kau akan paham kenapa aku selalu memandang Barat pantai ini. Bila kau tak paham, aku akan menemukan jawaban kenapa kau masih berkeliaran dengan keliaranmu,” katanya lagi dengan lebih santai dan sangat lancar, seperti sudah sangat direncanakan.

Ini di luar dugaanku. Entah kenapa rasanya aku benar-benar emosi. Aku tak menduga ini berbalik ke diriku sendiri. Emosiku memuncak, aku tak tahu kenapa? Semakin memuncak, semakin tak bisa kutahan, semakin tinggi, semakin tinggi, lalu jatuh ke kesedihan.

“Kurasa kau akan mulai menggantikanku, memandang Barat pantai ini, ke arah mantan pacarmu. Kau terjebak dalam sesuatu yang tak kau pahami, lalu kau mempermainkan egomu,” lanjutnya.

Kuraih botol bir, menuangkan sisanya ke dalam gelas, menenggaknya dengan senafas. Kepalaku serasa dituntun ke arah laut yang tak berujung, tanpa bisa kulawan. Jantungku terasa mendobrak rusuk, nafasku sedikit sesak. Kurasa aku mengingat cinta, istri dan anakku, lalu perempuan Jawa itu, lalu selingkuhan yang begitu mengiba berharap kejelasan statusnya. Jantungku semakin memberontak, nafasku semakin sesak, aku merasa sangat lemas, tak ada daya bahkan sekadar mengalihkan mata.

“Tuan” suara itu seperti menggema lam­bat, entah dari mana, beberapa kali. Sebuah tangan mendarat di pundak kiriku, menepuk tiga kali, lalu suara serasa pecah di telingaku, menyentakkan, “Tuan, tidak apa-apa?”

Setelah menarik nafas panjang, “Iya ada apa?” kataku berlagak tenang.

“Tuan baik-baik saja?”

“Iya, iya, ya” aku terbata, masih sedikit pusing, bingung.

“Bir lagi?”

“Boleh, boleh. Terimakasih.”

Arsip Cerpen di Indonesia