Monolog

“Kau sudah menemukan perbedaan kagum, cinta dan sayang?” katanya yang tiba-tiba menolehku.

Aku terdiam, kali ini matanya begitu tajam. Kata-katanya yang datar itu terasa begitu dingin.

“Tidak, aku bahkan tidak memikirkan itu, bagiku sama saja,” kataku sedikit terbata

“Itu kenapa kau masih sama seperti dulu,” katanya dengan santai sambil memalingkan lagi wajahnya ke arah laut.

Kali ini ia memenangkan permainan, aku serasa tersihir, berpikir. Aku sedikit merenggangkan jarak di antara kami, menarik kursi sedikit menjauh, hanya untuk menutupi kegugupan. Aku tak tahu kenapa ia begitu serius memisahkan makna kata-kata itu. Toh tujuannya sama. Aku berpikir.

“Aku tidak mencintai laut, hanya mengaguminya sebab ia menawarkan kesunyian. Aku menikmati itu,” katanya, menyadarkan aku dari lamunan.

“Apa bedanya itu dengan cinta?”

“Kau masih tidak paham?”

Aku tertawa mendengar jawabnya itu, ya aku memang tidak paham. Kutinju bahunya sambil kembali bertanya kenapa tak sekalian saja diselaminya kekagumannya itu? Aku memajukan kepalaku dekat dengannya, berharap dia menjawab pertanyaanku. Entah dorongan apa, kali ini aku benar-benar penasaran.

“Aku hanya takut tenggelam dalam kekaguman, itu saja,” katanya, lagi-lagi dengan datar, dan kali ini datarnya benar-benar diiringi dengan keseriusan, “Bagaimana kabar mantan istrimu? Perebutan hak asuh, mantan pacarmu, dan wanita-wanita yang kau siuli sebagai pelampiasan, bagaimana kabar mereka?”

Deg! Jantungku serasa dipukulnya, telingaku berdenging keras. Aku merapatkan mulut, menggemeretak gigiku. Kakiku aku goyang-goyangkan, seperti menjahit, kebiasaan saat emosiku naik. Ia tahu tentang aku, bukan berarti ia berhak mencampurinya dan itu bukan bagian dari pembahasan.

“Kawan, urusan pribadiku bukan bagian dari pembahasan,” kataku, berharap ia mengerti kalau aku terganggu.

Aku berusaha menenangkan diri, bagai­mana pun ia temanku. Aku menggali diri, mungkin ia merasa terganggu dengan aku yang membahas mantan pacarnya.

Arsip Cerpen di Indonesia