Seekor Kucing dalam Rashomon

Geta pria itu berkeletak-keletuk sepanjang dia berjalan mengusung mayat di pundaknya. Dengan pasti dia menyabarkan diri agar tidak tergesa melangkah di kegelapan rashomon supaya suara geta-nya tidak terdengar keras. Seharusnya aku memakai zori saja, pria muda itu berpikir. Namun, tak ada yang menyiapkan sandalnya. Dia hanya mengenakan kinagashi biasa dengan geta sebagai alas kaki.

***

Pria itu telah membunuh seorang perempuan yang beberapa saat sebelumnya menolak dirinya. Perempuan ini salah satu dari gadis kuil yang nantinya menari tarian Kagura khas malam musim panas. Orang-orang tak akan mengira perempuan itu pergi sebab ada tiga penari utama. Perempuan ini salah satunya.

Perempuan itu seharusnya akan minggat dari rumah setelah festival. Dia sudah ditunggu kekasihnya yang datang jauh-jauh dari Kofu untuk membawanya pergi meninggalkan lingkungan yang dengan terpaksa ditinggalinya sebab pria yang telah membunuhnya ialah Tuan Muda. Ya, perempuan itu pembantu di sebuah klan. Sebut saja klan Midori, yang tetap memegang teguh tradisi. Perempuan itu disayang si pria pembunuh, tetapi cintanya pada kekasihnya lebih besar. Dia memilih pergi, tapi malam celaka ini kali mengubah nasibnya.

Setelah mabuk sake, Tuan Muda datang ke kamarnya yang berada di lingkaran terakhir dari rumah klan yang megah dan luas. Tak seharusnya seorang Tuan Muda muncul di kamar itu, tetapi nafsu telah menguasainya. Berbekal alkohol, dia memaksakan diri pada perempuan itu. Tentu perempuan itu berusaha lari dan dia berhasil. Koridor-koridor panjang dia langkahi dengan tergesa-gesa. Namun, pada belokan terakhir saat bulan memampangkan wujudnya di tengah langit, Tuan Muda berhasil menangkapnya kembali.

Perempuan itu meronta. Dia kena tampar. Lalu Tuan Muda menyeretnya. Dan setelah bergulat, mengguncang-guncang tubuh perempuan mungil itu dengan sentakan-sentakan dahsyat untuk menjinakkannya dari perlawanan, perempuan itu mengembuskan napas terakhir. Mati dalam takut. Iblis yang bersemayam dalam diri Tuan Muda telah tersenyum puas lalu meninggalkan dirinya; menjadi sang tersangka. Barulah Tuan Muda sadar, dan menyesalkan kedunguannya itu.

Maka tak ada jalan lain kecuali menyembunyikan tubuh perempuan tersebut. Mula-mula dengan menutupnya menggunakan selimut. Seorang tua kepercayaannya, sempat terkejut melihat Tuan Muda ketakutan. Saat diperlihatkan mayat perempuan muda itu, orang kepercayaannya ini rubuh dan mengatakan bahwa dosa harus ditanggung sepenuhnya oleh Tuan Muda.

Arsip Cerpen di Indonesia