Orang tua ini tidak akan mengatakan apa-apa tentang kejadian malam itu. Dia berjanji tutup mulut, tapi tidak mau membantu mengurus si mayat. Tuan Muda tak bisa menangis terlalu lama. Dia harus berpikir keras mencari cara. Pertama dengan gelisah dia tanamkan mayat itu di rumpun dekat tugur raksasa pohon kusu no ki tak jauh dari kamarnya. Namun, kegelisahannya selama beberapa saat itu berlanjut seiring waktu berjalan. Tak ada cara lain. Dari balik taman di hadapannya itu dia memanggul mayat menyedihkan tersebut untuk membawanya ke bukit.
Bukit dengan kuil lawas itu berada di sebalik jalan setapak yang berada di sisi lain kediaman klan Midori. Karena letak kamarnya terbilang stategis, mencapai kuil itu langsung dari kediamannya bisa dengan mudah dilakukan. Kuil itu didirikan oleh leluhurnya dan kini dengan membawa dosa ia mesti menanam buah celaka yang dilakukannya. Rasa mabuknya sudah hilang sama sekali saking takut dan panik. Orang tua yang lepas tangan hanya memandang Tuan Muda-nya dengan penuh kecemasan. Dia tak bisa melakukan apa pun atas dosa yang diperbuat calon penerus pimpinan klan tersebut. Yang bisa diperbuatnya hanya membisu untuk selamanya. Sampai dia mati dan membawa rahasia itu ke alam kubur. Memikirkan hal ini, orang tua itu hanya bisa mendesah dan berdoa.
***
Selesai menanam tubuh perempuan pembantunya itu, Tuan Muda hendak kembali ke rumah saat dirinya terkejut akan dua bola mata yang menyala di kegelapan. Sebagai penyaksi atas tindakannya, seekor kucing yang tengah berteduh dari hujan.
Tuan Muda seakan tertodong sejenak. Namun, dia menguatkan dirinya berkali-kali: Itu hanya kucing, hanya seekor kucing. Langit luas terbentang di atasnya tapi tanpa bintang. Hujan makin deras. Dengan langkah tergesa-gesa dia meninggalkan kuil. Tuan Muda pun akan mengarang kisah bahwa pada tengah malam itu dia melihat si pembantu meninggalkan rumah diam-diam bersama seorang lelaki tak dikenal. Semua orang akan memercayainya dan menyumpahi si pembantu kurang ajar yang baru saja tinggal di rumah klan itu selama 7 bulan ini. Ya, dia akan mengarang kisah seperti itu, meyakinkan seluruh orang yang pada saat ini masih terlelap, kecuali si orang tua abdi setianya yang berjanji untuk tutup mulut.