Wartawan Lampu Merah

“Tukang koran datang, tukang koran datang!” teriak seorang teman sekolahku diikuti oleh teman-teman kelompoknya sambil tertawa. Mereka adalah Danu, Rio dan Radit. Danu sebagai ketua kelompok itu, memang sering mengejekku di sekolah. Kalau Rio dan Radit sekedar ikut-ikut saja. Danu anak orang kaya. Aku tidak tahu pekerjaan orang tuanya. Yang aku tahu, dia selalu diantar jemput naik mobil mewah. Danu selalu membelikan jajanan buat Rio dan Radit. Itu mungkin alasan mereka untuk mendukung apa pun yang dilakukan Danu.

“Mau beli, Danu.” Sahutku sambil menyodorkan sisa koranku yang belum laku.

“Apa? Beli koranmu? Bukan kelasku baca koran bekas debu jalanan. Aku punya ini. Di sini semua berita ada. Gak perlu aku susah-susah bolak-balik kertas bedebu sebesar itu,” balas Danu sambil menunjukkan handphone cerdasnya.

“Oh begitu. Baiklah. Aku ke kelas dulu ya. Sebentar lagi bel upacara.” Sahutku sambil berlalu menebar senyum kepada mereka.

Sebenarnya aku juga ingin punya handphone cerdas seperti Danu. Tapi itu tidak mungkin. Ayah dan ibuku hanya bekerja sebagai tukang sapu di pasar Simpang Limun. Untuk dapat makan sehari-hari saja kami sudah sangat bersyukur. Itulah alasan aku berjualan koran setiap pagi. Awalnya, Ayah dan Ibu melarangku untuk berjualan koran. Mereka memintaku untuk fokus belajar saja. Tapi, aku ingin belajar sambil berusaha untuk bekal sekolahku nanti. Uang hasil jualan koran sebagian kutabung di bank. Aku sangat ingin sekolah yang tinggi agar bisa jadi wartawan. Menurutku wartawan itu asyik. Aku bisa bertemu dengan orang-orang hebat dan pergi ke kota lain atau ke negara lain untuk meliput berita.

Bel upacara berbunyi. Semua siswa berkumpul di lapangan sekolah. Hari ini giliran kelas kami, kelas IV, yang menjadi petugas upacara. Aku mendapat tugas sebagai pembaca janji siswa. Pembina upacaranya adalah Ibu Pasaribu, kepala sekolah kami. Dalam amanatnya, Bu Pasaribu menyampaikan akan ada perlombaan wartawan cilik di kota Medan. Katanya dari sekolah kita akan dikirim satu siswa melalui seleksi terlebih dahulu. Aku sangat senang mendengarnya.

***

“Tukang koran! Ikut kau seleksi wartawan cilik itu,” tanya Danu menghampiriku yang sedang duduk di pojok baca sekolah bersama Ari sahabatku,

“Hei… Danu. Namanya Nanta, bukan tukang koran. Seenakmu saja memanggil orang.” sela Ari tidak senang aku direndahkan Danu.

Arsip Cerpen di Indonesia