“Anak-anak sekalian. Semua harap berkumpul di lapangan sekolah. Seperti biasa, hari ini kita akan mengadakan kegiatan membaca di lapangan.” Suara Bu Pasaribu terdengar dari pengeras suara sekolah. Seluruh siswa berkumpul di lapangan sekolah dan duduk di atas tikar yang sudah terbentang.
“Anak-anak sekalian. Selama tiga hari ini telah terkumpul tiga puluh dua liputan berita dari kalian untuk lomba wartawan cilik. Ibu sangat bangga kepada kalian karena banyak yang mau menulis. Namum sekolah kita hanya akan mengirim satu saja perwakilan untuk dua hari lagi lanjut lomba di tingkat kota. Selebihnya akan dimuat di pojok baca kita. Untuk itu, ibu akan mengumumkan siswa kita yang menjadi perwakilan SD kita. Siswa tersebut adalah Ananta Lubis dari kelas IV. Kepada Ananta Lubis, Ibu minta untuk ke depan” Terang Bu Pasaribu dengan penuh semangat.
Suara tepuk tangan dari dua ratusan siswa membuat kudukku berdiri. Ari yang duduk di sampingku memelukku sambil mengguncang-guncang tubuhku. Aku melangkah ke depan untuk memenuhi panggilan Bu Pasaribu. Kulihat dari depan Danu dan teman-temannya juga bertepuk tangan. Mereka mengacungkan jempol tanda memberi semangat. Kemarin memang Danu sudah menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepadaku dan semua teman yang pernah dirundungnya.
Aku tidak sabar menunggu dua hari lagi. Ayahku, ibuku dan Pak Arman pasti bangga karena aku berhasil menjadi perwakilan sekolah untuk lomba wartawan cilik. Yang membuatku bertambah senang, Bu Pasaribu bilang perlombaan akan dilaksanakan di hotel berbintang. Aku sama sekali tidak menyangka anak tukang sapu bisa menginap di hotel berbintang. Kutanamkan niat di hatiku, sekarang aku wartawan lampu merah, ke depan aku akan menjadi wartawan mendunia.
Alfi Syahri Ramadhan Chan. Penulis adalah siswa kelas IV SD IT Ar-Rayhan School Medan