Wartawan Lampu Merah

“Kenapa kau yang marah? Tukang korannya saja tidak marah aku panggil begitu.” Balas Doni dengan suara keras.

“Memang aku tidak terima. Danu ini sahabatku. Kau merendahkan sahabatku sama saja dengan merendahkanku.” Sahut Ari sambil berdiri penuh emosi.

“Jadi kau mau apa? tantang Danu sambil berjalan ke arah Ari.

Buru-buru aku menarik tangan Ari dan mengajaknya pergi mening­galkan Danu. Aku tidak mau mereka berkelahi.

“Kenapa kau cegah aku berkelahi dengan Danu? Dia itu anak yang sombong. Dia perlu diberi pelajaran. Jangan mentang-mentang dia anak orang kaya bisa berbuat se­enaknya.” Cetus Ari kepadaku sambil berjalan ke kelas.

“Sudahlah, Ri. Kata Pak Arman, tidak ada gunanya berkelahi. Kau kan juga masih ingat pepatah yang disampaikan Bu Pasaribu. Berkelahi itu, menang jadi arang, kalah jadi abu. Jadi mau menang mau kalah, sama-sama susah.

“Tapi……”

“Sudahlah, lebih baik kau bantu aku untuk mencari bahan jurnalistik di koran-koran ini. Nanti kalau aku menang, kutraktir kau makan bakso.” Selaku sembari memilih memilih berita untuk kujadikan contoh membuat liputan.

“Ri, bagaimana kalau aku meliput tentang tindakan perundungan di sekolah kita?” tanyaku meminta pendapat Ari.

“Apa pula itu perundungan?” tanya Ari.

“Aku pun tidak tahu pasti. Yang aku, perundungan itu semacam mengejek atau merendahkan orang secara fisik atau kata-kata. Lebih jelasnya nanti kita tanya guru saja.” jawabku.

“Kenapa kau mau liput tentang perundungan itu?”, tanya Ari penasaran.

“Coba kau baca koran ini. Sudah berapa hari ini, hampir semua koran memberitakantentang tindakan perundungan yang dilakukan dua belas siswi SMA terhadap satu siswi SMP di kota Pontianak. Aku sangat tidak setuju dengan tindakan ini. Makanya aku mau meliput pendapat guru dan kawan-kawan di sekolah tentang tindakan perundungan. Supaya tidak ada lagi tindakan serupa. Paling tidak sekolah kita bebas dari tindakan perundungan.

“Oh…. begitu ya.” kata Ari sambil manggut-manggut dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Kami pun segera menemui guru untuk bertanya tentang apa itu perundungan. Setelah mendapat informasi yang jelas, kami bertanya kepada sebagian kawan-kawan di kelas IV dan kelas lain.

***

Arsip Cerpen di Indonesia