Senja di Paropo

Mengalihkan rasa malu, dia langsung menceritakan tujuan kedatangannya, tentu bukan untuk makan gratis. Aku mendengarkan dengan seksama. Sinta yang sudah mengetahui rencananya hanya mengangguk-angguk. Kulirik tanggal di jam tangan, masih ada waktu seminggu lagi. Menimbang ajakan mereka yang tentunya sangat kucita-citakan kenyataannya.

Izin kedua orang tua membuatku ragu. Belum tentu mendapat restu dari keduanya. Kata hatiku berbisik tegas, sekali ini saja. Aku meminta waktu pada mereka untuk memutuskan segalanya. Termasuk usaha membujuk raja dan ratu di rumah ini. Sayup-sayup terdengar keindahan di sana yang sangat menjanjikan. Tidurku dipenuhi dengan kerisauan yang butuh sebuah jawaban.

Kudatangi mama yang tengah bersantai di teras belakang. Pijitanku di kaki beliau membuat keningnya berkerut. Ternyata beliau memahamiku. Katanya ada suatu keinginan yang akan kuutarakan. Wanita yang tak pernah pudar kecantikannya terkejut mendengar permintaanku. Dikira aku menginginkan sebuah barang mahal atau terkini yang menjadi pajangan di brand kelas atas.

“Kamu sedang tumbuh dewasa, Nak” dibelainya rambutku. Aku menantikan kata-kata lanjutan yang akan terucap darinya.

“Kamu boleh pergi. Dengan satu syarat, harus dapat menjaga diri.” Beliau memberi ultimatum, ini kesempatan pertama. Sekaligus kesempatan terakhir jika aku menyia-nyiakan kepercayaannya. Kupeluk beliau dan kusampaikan mengenai permintaan izin kepada ayah. Mama meyakinkan semuanya baik-baik saja. Biar beliau yang menyampaikan kepada ayah yang tengah berada di luar kota. Bulir air mata jatuh dari sudut mataku, merasakan kasih seorang ibu yang tengah memberikan putrinya sebuah pelajaran baru, kepercayaan.

Kutelusuri rak makanan dengan langkah perlahan. Makanan favorit kumasukkan sebanyak-banyaknya. Tak lupa kurangkap untuk cemilan di perjalanan. Daftar belanja tanpa list yang sudah biasa kulakukan dengan mama membuat Rani dan Sinta geleng-geleng kepala. Aku menraktir semua makanan selama bepergian sebagai wujud bahagia. Tak lupa kudatangi rak berisi kebutuhan mandi sebagai pelengkap.

Tibalah hari yang ditunggu. Kami berkumpul di rumah Rani. Tampak Aldi dan Dika segera menyambut kedatanganku. Aldi melunturkan kebingunganku dengan senyuman teduhnya. Kabarnya dia menyukaiku. Tak ada alasan untuk menolaknya. Ganteng, pintar, baik, saleh, dan populer. Hanya saja aku takut kepada ayah, sehingga menutup hati pada siapa pun.

Arsip Cerpen di Indonesia