Senja di Paropo

Mataku membelalak mendengar suara pukulan. Aldi tersungkur, dari sudut bibirnya mengalir darah segar. Pandangan marahku berubah seketika melihat si pelaku. Ayah telah berdiri dan bersiap memukulnya tanpa ampun. Beliau bak seorang malaikat pencabut nyawa. Sorot matanya tajam, tak kenal belas kasih. Aku menangis di kaki ayah, memohon untuk tidak menghajar Aldi. Pintaku tak diindahkan. Beliau memukul Aldi yang berniat bangkit dan aku diseret masuk ke mobil.

***

Aku menyeruput cappuccino di sudut kelas, enggan bergabung di kantin. Tatapan semua siswa di sekolah menghakimiku. Tiada seorang pun yang sudi berteman denganku, termasuk Rani dan Sinta. Akulah yang menanggung sikap otoriter ayah. Karena mampu memisahkan urusan sekolah dan pribadi, beliau memecat Aldi dari sekolah. Semua karenaku. Senja di Paropo tak hanya menciptakan kenangan indah, namun menyuguhkan luka.

Arsip Cerpen di Indonesia