Perjalanan di pagi hari sungguh memberikan kesejukan. Tak ada macet khas kota. Semuanya tergantikan oleh deret pepohonan. Tiga jam menuju Paropo tak kusia-siakan. Kamera khusus meliput perjalanan tak pernah absen dari tanganku. Sinta dan Rani sibuk menikmati makanan, tampaknya tidak begitu tertarik dengan pemandangan yang disuguhkan alam. Mungkin saja mereka sudah beberapa kali melewatinya.
Aku berteriak ketika melihat kubangan air raksasa di kejauhan. Dika terkejut mendengar jeritanku spontan menginjak rem. Beruntung tidak terjadi kecelakaan. Aku hanya meringis menjawab tatapan mereka yang mengandung arti. Kampungan, seperti tidak pernah melihat Danau Toba.
Mobil melaju lambat, hingga akhirnya berhenti. Aku berlari menyentuh dinginnya air. Terpantul wajah ceriaku di permukaan, membuat siapa pun tak tahan segera menenggelamkan diri di dalamnya. Mengapa aku lama sekali mengenal surga dunia ini? Oh ya, di mana kameraku?
Ketika menoleh, kulihat dia telah digenggam Aldi. Aku tak sadar sedari tadi telah dibidiknya. Ajakan Sinta dan Rani untuk membakar ikan tak kuhiraukan. Mereka pun pasrah, membiarkanku menikmati setiap jejak kebebasan selama dua hari.
Aldi tak membiarkanku sendiri. Dia menemaniku, seakan mendampingi anak kecil yang gamang akan dunia luar. Sampai usai makan pun dia tetap di sampingku. Tak ada kata malu padaku yang menyantap makanan dengan lahap. Walau jauh di lubuk hati tersimpan rasa simpati padanya.
Ikan bakar, sambal kecap, acar, dan kerupuk yang disiapkan Sinta dan Rani, membuatku menyendokkan nasi tambah hingga dua kali. Tak kuindahkan ejekan yang biasanya kulontarkan pada mereka. Suasana dingin dan keindahan alamlah yang menjadi faktor selera makanku bertambah.
Senja ini kami menghabiskan waktu dengan menikmati keindahan alam. Tak banyak kata yang terucap, mempersilakan pada desiran angin untuk menambah kenyamanan tiada terkira. Pandangan kagum pada lengkungan danau terbingkai oleh bukit hijau.
Jauh di atas sana, tampak pinus memberikan kesan tak ada satu ciptaan manusia pun yang mampu mengalahkan keindahannya. Matahari yang bergerak ke barat mengalirkan bayang warna pada riak danau yang jernih. Beberapa traveller lainnya sibuk mendirikan tenda menyambut dinginnya sang malam di Paropo.