“Begini Raja, anakda sudah merasa dewasa dan lebih dalam hal menuntut ilmu, tapi anakda masih merasa kurang. Anakda mengharapkan pendamping hidup yang dengan setia menemaniku hingga akhir hayat seperti Raja dan Permaisuri.” I Mannakku mengungkapkan isi hatinya.
“Apakah kita harus membahas ini sekarang wahai anakku? Sepertinya belum saatnya,” menatap anaknya kemudian melirik ke Permaisurinya. Permaisuri meragu. “Memangnya ada apa Raja?” I Mannakku penasaran dan menatap penuh tanya kepada Ibundanya.
Mulailah Raja Luwu bercerita mengenai pertunangan putranya yang sejak dalam kandungan. “Saat itu Permaisuri sedang mengandung bersamaan Permaisuri, Karaeng Somba Labbakkang. Timbul keinginan dalam hati untuk mempererat hubungan keluarga. Maka kami mempertunangkanmu. Namanya I Marabintang, anaknya Raja Somba Labbakkang. I Marabintang dan kamu masih sepupu sekali. Gadis itu sangat cantik.”
“Jika itu sudah menjadi kehendak hati Raja dan Permaisuri, maka segeralah menyuruh I Samindara untuk pergi meminang ulang. Berangkatkanlah ia esok sebelum matahari pergi karena perjalanan yang ditempuh dari Luwu ke Gowa itu sangat jauh,” ucap I Mannakku. Dia begitu tenang, tapi dari gelagat dan senyumannya yang sumringah tampak diwajahnya yang tidak sabar ingin bertemu I Marabintang.
I Samindara pulang ke tanah Luwu dengan membawa kabar gembira untuk keluarga Raja Luwu. Segala persiapan pernikahan disiapkan oleh kedua kerajaan besar itu. Acara pernikahan kedua mempelai keturunan bangsawan itu berlangsung meriah.
Baru saja pernikahan telah dilangsungkan, datanglah putra bangsawan dari Surabaya I Nojeng yang sangat tergila-gila dengan I Marabintang. Kecantikan I Marabintang sampai ke telinga I Nojeng. I Nojeng baru saja menikah, sehari semalam, ia sudah meninggalkan istrinya demi mengejar wanita lain. I Nojeng mendengar kabar kalau I Marabintang sudah dipersunting oleh putra mahkota dari kerajaan Luwu yang bukan lain adalah kerabatnya sendiri. Api kecemburuan dan egoisme I Nojeng, yang nekat berlayar ke Makassar. Tangisan istrinya yang mengejarnya sampai Pelabuhan tidak dihiraukan, I Nojeng benar-benar telah buta karena cinta. Pernikahannya dengan I Basse Mentega hanyalah sebatas perjodohan tidak berdasarkan cinta.
I Nojeng datang menemui I Mannakku mengajak bertarung. I Nojeng dengan brutalnya menembaki I Mannakku dengan meriam tepat di dadanya, tubuhnya terhempas jauh. Ketika I Marabintang mendekati tubuh I Mannakku tak ada luka di badannya. I Mannakku bangkit lagi dan mengajak I Nojeng untuk bertarung. Hingga beberapa jurus mereka keluarkan. I Marabintang berusaha melerai kedua pria yang menyukainya, tapi hati dan cintanya hanya untuk sang suami. Kedua pria itu bersimbah darah. I Mannakku kalah dalam peperangan, lehernya ditebas oleh I Nojeng.
***