I Marabintang

I Marabintang geram dibuatnya. Ia bersama laskar perempuannya dari kerajaan Gowa bersiap-siap menyerang I Nojeng di kediamannya. Wanita pertama yang ia temui, yaitu I Basse Mentega, istri Nojeng. Tanpa ragu, istri Nojeng menunjukkan di mana kepala I Mannakku di sembunyikan.

I Nojeng mendapati I Marabintang. Ia mengumpulkan kesaktiannya hingga mengeluarkan asap, mengepul dari kepalanya. I Marabintang tak sedikitpun terbersik rasa takut. Kekuatan dan amarah bercampur, matanya menyala kemerahan bagaikan api yang siap membakar. I Marabintang meloncat tanpa keraguan. Pedangnya dengan sekejap menebas leher I Nojeng.

Dua kepala para putra Mahkota itu disimpan I Marabintang. Ia mendengar kabar dari dukun kalau kepala yang terpisah dapat bersambung lagi hanya dengan menggunakan bunga kuma-kuma putih. Bunga itu hanya berbunga setangkai dalam sekali menjelang bulan Ramadan dan ada di dalam gua gunung Bawakaraeng yang dihuni raksasa. I Marabintang pamit kepada Karaeng dan Permaisuri, ia berkeinginan mencari bunga itu demi menghidupkan kembali suaminya. I Basse Mentega juga ikut karena membujuk I Marabintang.

Alhasil bunga yang dicari telah didapatkannya, meski menuai banyak rintangan. Tetapi, ia hanya dapat menghidupkan I Mannakku tidak dengan I Nojeng. I Basse Mentega menjadi dendam kepada I Marabintang karena suaminya tidak dapat dihidupkan kembali. Pembalasan dendam I Basse cukup lama karena sampai mengguna-gunai I Marabintang, tapi segala niat jahat I Basse dapat ditangkis dengan ilmu kanuragan.

Permaisuri bergumam dalam hati, “Kecantikan adalah dambaan setiap wanita. Namun, kecantikan terkadang membawa malapetaka. Kecantikan sering membawa perselisihan sampai menyimbahkan darah. Kecantikan wanita dapat meraih cinta sejati ataukah malah nafsu belaka. Perlunya keteguhan iman yang kokoh.”

 

*Diangkat dari folklor I Marabintang

 

Risya Marennu, Dosen Sastra Indonesia FIB UNHAS dan Guru Sekolah Madania Makassar.

Arsip Cerpen di Indonesia