Kedatangan tanpa Penantian

Namun, malam itu—entah itu karena film action dan kondisi cuaca di luar sana—ia tampak begitu tenang seperti seorang manusia yang tak memiliki satupun masalah.

Padahal permasalahan sudah menumpuk bak susunan buku-buku teori yang tak terpecahkan oleh pikirannya, sehingga takkan mungkin ia mampu terlepas dari kegelisahan-kegelisahan tersebut walau hanya sebentar saja. Tetapi, apa yang terlihat kini justru sebaliknya. Ia tampak begitu tenang, seperti terlepas dari kegelisahannya yang menggunung, walau hanya sesaat.

Namun fenomena itu tak berlangsung lama. Ketika dirinya sedang fokus menikmati suguhan sebuah adegan one by one antara pemeran utama dan musuh yang mana sangat ia sukai, bunyi klakson mobil terdengar nyaring dari arah luar. Sumber nyaringnya jeritan klakson itu berasal tepat dari depan terasnya. Tampaknya hal itu sengaja dilakukan oleh si pengendara agar bunyi yang ditujukan tidak salah alamat, namun tetap saja beberapa tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan Dony menyingkapi gorden jendela mereka ketika mendengar bunyi klakson yang mengganggu itu.

Dony yang masih bertanya-tanya akan bunyi klakson itu terpaksa harus kehilangan setengah adegan tarung yang paling menjadi favoritnya. Ia mengangkat tubuhnya dari kursi hijau yang sedari tadi menampung tubuhnya yang kurus itu dan berbalik melangkah menuju pintu yang berdiri tegap tepat di belakang punggungnya. Ia buka pintu dan dengan pandangannya yang menyelidik, ia berusaha menembus rapatnya hujan rinai yang menjadi penghambat pandangan antara dirinya dan mobil yang menyala di hadapannya. Tak lama setelah itu, pintu bagian belakangnya terbuka. Seseorang yang tak asing baginya muncul di sana.

***

Rumah dengan luas 10×4 meter itu kini dipenuhi oleh keluarga kakaknya yang duduk melingkar. Awalnya sangat sulit untuk memecahkan keheningan yang terjadi di antara mereka, sebelum suami dari kakaknya harus memulainya dengan basa-basi yang harus dilakukan agar nanti basa-basi itu dapat bermuara ke sebuah tujuan dari kedatangan mereka. Suami kakaknya itu pun menanyai perihal-perihal yang ringan awalnya: dimulai dari keadaan fisik dan bagaimana keadaan pasar pasca kebakaran. Setelah itu, suami kakaknya itu menanyai bagaimana ke adaan anak-anak Dony yang kedua-duanya sudah berada di jenjang perguruan tinggi. Dony pun menimpali itu dengan jawaban yang bersahabat. Ia pun juga menanyai keadaan keluarga kakaknya yang hidup di Medan sana. Ia juga menanyai keadaan usaha suami kakaknya yang mana adalah seorang penjahit. Bisa dikatakan penjahit ternama di Medan sana. Selain itu, ia juga menanyakan bagaimana keadaan di kampung belakangan ini, karena selain penjahit, beliau juga seorang Datuk.

Arsip Cerpen di Indonesia