Suami kakak Dony yang mana adalah Datuk dan juga Mamak dari Dony itu pun akhirnya langsung menekel obrolan basa-basi itu. Suasana yang sebelumnya sedikit cair dengan obrolan-obrolan ringan yang bersahabat, kini tampak telah berubah menjadi keheningan yang justru membuat suasana menjadi tegang. Dengan tangan kanannya, Datuk dan Mamak dari Dony itu mencetuskan korek api kayu dan membakar rokoknya.
“Jadi, sebenarnya tujuan Da At kemari adalah karena kemenakan Dony juga, yaitu si Rizal. Pada dasarnya, ia hendak juga ingin menikah dengan si Tata. Akad nikahnya dilakukan tiga hari lagi, Don, dan untuk melakukan akad nikah, tentu si Rizal butuh seorang Mamak sebagai pendamp ing dari tipak keluarga ibunya. Namun, bisa dikatakan hampir semua oom-oom si Rizal ini berada di rantau, dan cuma Dony satu-satunya Mamak si Rizal yang tinggal di sini. Jadi, tujuan Da At kemari sebenarnya ingin meminta Dony untuk hadir pada saat akad nikah si Rizal yang dilaksanakan hari Jumat besok.” Logat Minang yang keluar dari mulutnya terdengar telah bercampur dengan logat batak.
Dony hanya diam dengan khusuk mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Da At. Ketika Da At selesai menjelaskan tujuan yang membuat dirinya mendatangi Dony secara langsung, Dony masih tampak diam dengan sedikit senyuman menyungging di kedua sisi pipinya. Pada gerak-geriknya tampak jelas bahwa ia setuju dan bersedia untuk melakukan permintaan yang diminta secara langsung oleh Datuk sekaligus mamaknya itu. Setelah memberikan keheningan yang cukup panjang, akhirnya ia berbicara.
“Maaf, Da At. Dony tidak bisa, Da At. Dony sudah malas dengan si Rizal ini.” terangnya sambil terse nyum dengan ramah, namun yang terjadi pada raut wajah Da At justru sebaliknya.
“Da At tahu tidak? Dia tiba-tiba datang ke toko Dony. Bilang kalau dia cerai sama istrinya. Melihat kondisinya yang bisa dibilang sudah merasai secara fisik dan mental waktu itu, Dony terima dia, Da At, Dony coba ngomong ke papa supaya dia bisa tinggal di rumah papa, Padahal, asal Da At tahu, papa sebenernya ga mau nerima dia untuk tinggal di sana. Tapi Dony yang yakinin papa, supaya dia bisa tinggal di sana, sekaligus nemenin papa yang udah tua. Tapi lihat kelakuannya ke Dony, Da At. Setelah dia merasa aman, dia bahkan ga sedikit pun ada rasa terima kasih ke Dony. Cerai belum sampai setahun, tapi udah mau nikah lagi. Dan yang mau dinikahin malah anak etek dari keluarga orang tua kita sendiri. Harusnya sebagai seorang lelaki yang baru aja dapet permasalahan rumah tangga, dia ga mikirin itu, Da At. Yang harusnya dia pikirin itu ya gimana dia bisa berdikari dulu, dan nantinya kalau dia udah berdikari dia pun bisa memilih. Setidaknya bukan anak dari etek yang dinikahin!” Tegas Dony.