Pengakuan singkat yang sangat frontal dari Dony itu benar-benar membuat Da At terdiam. Kini giliran istrinya Da At—yaitu kakak kandung Dony—mencoba menjawab dan lalu memberikan pernyataan pribadinya akan permasalahan ini. Namun, Dony justru langsung membungkam semua perkataan kakaknya dengan menyebutkan fakta-fakta akan ketimpangan kebijakkan kakaknya kepada seluruh adik-adiknya, salah satunya adalah ketika ia menghasut papa untuk mengurungkan niat beliau yang ingin mewariskan salah satu kiosnya kepada Dony, karena beliau merasa hanya Donylah satu-satunya anaknya yang dekat dan peduli dengan beliau di Bukittinggi ini, sehingga abang-abang Dony yang hidupnya hanya untuk merongrong orang tua mereka malah memusuhinya ketika mengetahui ia menerima warisan kios itu.
Fakta-fakta yang selama ini terpendam di dasar hati Dony yang sesak kini keluar tanpa mampu terbendung. Da At dan istrinya yang mana benar-benar terjebak pada keadaan tersebut benar-benar tak mampu lagi untuk berkilah; jangankan berkilah, menjawab pun mereka tak kuasa karena selain kesalahan, situasi juga benar-benar menghukum mereka. Mere ka pun akhirnya meminta diri kepada Dony.
***
Pagi itu, Dony harus ke pasar lebih awal daripada hari-hari sebelumnya, ka rena bisa dipastikan bahwa ia tak akan mendapatkan tempat untuk dijadikan lapak jika ia datang terlambat sedikit saja, sebab para pedagang kaki lima maupun yang kedainya terbakar pasti sudah akan ramai berkeliaran untuk men daulat lapak sebesar 2×1 meter itu. Setibanya di pasar pada pukul setengah enam pagi, Dony pun berge gas mencari tempat untuk berlapak, namun langkahnya terhenti oleh seorang pedagang yang menghampirinya tepat dari belakangnya. Orang itu adalah Ni Rima, orang kampungnya.
“Don, kenapa tidak datang pernikahan si Rizal?” tanyanya langsung.
“Tidak bisa, Ni Rima. Sibuk.” Jawab Dony dengan polos.
“Aduh, Don, harusnya kamu datang. Kamu kan mamaknya, Don.” Sindir Ni Rima.
“Benar, Ni Rima, tapi pernikahannya aman saja, kan?”
“Apanya yang aman, Don. Tidak ada satu pun mamak yang mewakilkan Rizal pada pernikahan itu. Buruk benar nasib anak itu: Wajah tampan, anak keluarga kaya dan anak datuk lagi. Tapi, malang memang dia. Cerai bukannya dapat ganti yang lebih, malah sebaliknya; nikah sama anak dari eteknya sendiri. Sudah tua pula lagi, bahkan tua pula dari dia sendiri. Waduh pokoknya sayang sekali. Harusnya Rizal itu bisa dapat lebih, ya kan, Don?”
Dony pun hanya tersenyum. (*)