Silam

Di meja makan, sarapan pagi terasa hambar di lidah Pak Tua. Ia bercerita kepada istinya, tapi istrinya tak percaya. Justru Pak Tua dianggap sudah mulai pikun dan sedang berhalusinasi. Pak Tua bersikeras bahwa apa yang didengarnya semalam nyata. Ocehan Pak Tua hanya ditanggapi dengan gelengan kepala oleh istrinya.

Pak Tua menjalani hari dengan gelisah. Ia melakukan semua kegiatan hari itu dengan hati tak tenang. Hampir separuh harinya habis di taman belakang rumah: merokok, minum kopi dan melamun. Memikirkan apa yang terjadi semalam.

Setelah makan siang, Pak Tua memanaskan mobil di garasi. Ia lalu pamit kepada istrinya. Mau cari angin, katanya. Istrinya mengangguk setengah tak peduli. Pak Tua memacu mobil menuju pinggiran kota.

Dataran tinggi yang masih hijau dengan rimbun pepohonan adalah lanskap yang bisa ditemui di pinggiran kota ini. Di sana, Pak Tua membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia mematikan AC mobil dan membuka jendela, membiarkan udara sejuk menerpa wajahnya. Ia berputar-putar saja, tanpa tujuan yang pasti. Sekadar memanjakan mata dan mengisi dadanya dengan udara segar. Berharap perasaannya jadi lebih baik.

Bosan berputar-putar, ia berhenti di kedai bakso, menghabiskan dua mangkuk bakso dan segelas es teh. Ia teringat sebuah anjuran, makan bisa menghilangkan stres. Apalagi menyantap makanan kesukaan. Sejak remaja Pak Tua menggemari bakso. Tapi menyantap dua mangkuk bakso kali ini tak memberi efek apa-apa. Suasana hatinya justru kian memburuk.

Hari sudah senja. Pak Tua memutuskan untuk kembali ke rumah. Namun ketika sampai di depan stadion ia mendadak menghentikan mobil. Terpikir olehnya untuk jalan cepat keliling stadion. Di masa lampau, lari keliling stadion cukup untuknya mengobati rasa bosan dan jenuh, sekadar jeda dari pekerjaannya. Ia kini sudah tak mampu berlari seperti dulu. Dengan jalan cepat satu dua putaran barangkali ia akan berkeringat, lelah dan malam ini bisa tidur lebih nyenyak.

Benar saja, baru satu putaran keringatnya bercucuran. Ngos-ngosan. Usia tak berdusta. Ia membeli air mineral di warung dekat stadion dan menghabiskannya, lalu memutuskan untuk pulang. Lagipula langit makin gelap.

Di rumah, istri Pak Tua bertanya ini dan itu. Pak Tua hanya menjawab sekadarnya . Di meja makan telah siap nasi goreng dan telur ceplok. Pak Tua mandi lalu melahap nasi goreng buatan istrinya. Di luar hujan turun cukup lebat. Pak Tua mengisap rokok dan menikmati kopi di teras. Karena lama-lama merasa kedinginan Pak Tua masuk rumah, menonton televisi.

Arsip Cerpen di Indonesia