Silam

Pak Tua tertidur di sofa depan televisi. Sementara televisi masih menyala. Pukul sembilan, istri Pak Tua membangunkan suaminya dan memintanya tidur di dalam kamar. Pak Tua menuruti permintaan istrinya. Kantuk sudah menyerang sedemikian hebat, Pak Tua seketika lelap begitu rebah.

Pukul satu dini hari. Tiba-tiba mata Pak Tua terbuka. Degup dalam dadanya begitu kencang. Ia mengucek matanya lalu duduk. Ia tajamkan pendengaran. Tak salah lagi, suara itu begitu jelas. Suara orang mengetik dengan mesin tik tua!

“Kamu dengar suara itu?” Pak Tua bertanya dan membangunkan istrinya.

Kali ini istrinya langsung terbangun.

“Aku tidak mendengar apa-apa. Malam begini sunyi. Memangnya kamu mendengar apa?”

“Aku mendengar orang sedang mengetik dengan mesin tik. Suaranya khas dan jelas.”

“Tidak. Aku tidak mendegarnya. Kurasa aku harus membawamu ke dokter. Besok pagi kita ke dokter.”

Istri Pak Tua menarik selimut dan kembali tidur. Tapi Pak Tua tak bisa tidur. Kantuknya telah menguap entah kemana. Suara itu begitu nyata, batin Pak Tua. Waktu muda dulu Pak Tua pernah mengetik dengan mesin tik. Ia ingat suaranya, sama dengan yang didengarnya kini.

Pak Tua tak berpikir lama. Ia segera menuju perpustakaan kecil. Memang dari sanalah asal suara itu. Begitu pintu dibuka, suara mesin tik yang samar makin terdengar jelas. Di perpustaakan itu ada meja dan kursi di dekat jendela. Pak Tua melihat sosok laki-laki gempal sedang mengetik di sana. Pak Tua terperangah. Ia coba mengingat-ingat. Rasanya ia pernah bertemu dengan lelaki yang sedang asyik mengetik dengan mesin tik tua itu.

Begitu sumbatan ingatan terbuka, Pak Tua segera mengenali sosok itu. Tiba-tiba Pak Tua terduduk dan menangis.

***

Kini Pak Tua ada di sebuah tempat yang paling tak ingin ia kunjungi. Pak Tua ingin membuat semacam pengakuan. Ada satu kisah yang belum ia ceritakan kepada siapapun. Sebuah rahasia. Sesuatu yang ingin ia simpan rapat-rapat. Sesuatu yang buruk, sangat buruk. Semacam dosa yang begitu ingin ia hapuskan.

Di masa silam, di waktu yang jauh, Pak Tua pernah menghabisi nyawa seorang wartawan. Kasus itu, di kemudian hari menjadi salah satu kasus yang terus dikenang. Kematian si wartawan selalu diperingati.

Karena lihai, Pak Tua lolos dari kasus itu. Ada orang lain, di bawah todongan senjata, yang mengaku sebagai pembunuh. Seorang tumbal yang bodoh dan malang. Pak Tua bebas, hingga kini.

Arsip Cerpen di Indonesia