Ia masih ingat betul, malam itu ia dipangil oleh atasannya. Ada tugas penting, kata si penyampai kabar. Maka, malam itu ia bergegas menuju kantor. Sampai kantor ia langsung menuju ke lantai II, ke ruang atasannya. Di sana ia sudah ditunggu oleh sang atasan. Begitu duduk, selembar foto disodorkan kepada Pak Tua.
“Habisi dia,” pesan sang atasan singkat. Pak Tua hanya mengangguk patuh. Sejumlah ciri diberikan kepadanya. Namun alasan kenapa orang itu harus dibunuh ia tak pernah tahu.
Bukan perkara sulit bagi Pak Tua untuk menemukan rumah orang yang wajahnya ada dalam potret itu. Mudah juga baginya menyelinap masuk ke pekarangan rumah dan kemudian menikam orang itu. Lalu secepat kilat menghilang dari sana.
Meski sempat dibawa ke rumah sakit, nyawa wartawan itu tak tertolong. Mudah diduga, seisi kota gempar. Berita wartawan dibunuh menyebar kemana-mana dan memancing kemarahan. Tapi di tengah rezim otoriter tangan besi, masyarakat tak bisa berbuat banyak.
Sejak kasus itu jadi perbincangan, barulah Pak Tua tahu kenapa ia diperintahkan untuk membunuh si wartawan. Semua orang mengaitkan terbunuhnya wartawan itu dengan gelaran pemilihan gubernur. Konon, si wartawan telah menulis laporan investigasi tentang kasus korupsi kelas kakap salah satu calon gubernur. Maka, ganjaran bagi pengusik adalah hilang nyawa. Lagipula ia hanya wartawan miskin yang tak punya kuasa.
Pak Tua tak ambil pusing. Toh semua terjadi hanya berdasarkan perintah atasan. Ia hanya pesuruh yang wajib taat. Hanya saja, dosa di masa silam itu terus menghantuinya dan kini membuatnya nyaris gila. Terdengar kembali di telinganya suara mesin tik dengan iringan suara biola yang mengalun. Pak Tua menangis lagi.
A. Zakky. Penulis lahir di Ponorogo, 20 Maret 1990. Saat ini tinggal di Pucangan, Kartasura. Karyanya berupa cerpen dan esai telah dimuat di sejumlah media.