Orang-orang yang mendengar perkataan Bardi seperti itu seketika menjadi kaget. Tidak tahu apa maksud perkataan Bardi yang baru saja terucap itu.
“Bardi, tadi kamu bilang apa? Setan kau suruh minggat dari sini?” tanya Tito, tetangga sebelah rumah Bardi yang merasa amat penasaran dengan perkataan Bardi yang baru saja didengarnya, setelah dirinya dan warga lain berhasil memadamkan kobaran api.
Bardi hanya tersenyum, tidak lekas menjawab. Matanya justru tertuju pada bekas sampah dan gedek yang habis terbakar.
“Bardi, apa maksud kamu?” tanya Tito lagi.
Bardi menarik napas panjang. Tito lalu ditatap sekilas, “Setan itu biar cepat-cepat minggat dari sini!”
Tito terkejut mendengar jawaban seperti itu. Tidak paham dengan jawaban dari Bardi, tetangga dekat yang setiap harinya sebagai buruh sawah itu.
“Setan itu senang sekali berada di sampah atau tempat yang kotor. Makanya kalau ingin tidak ada setannya, semua sampah atau kotoran harus cepat-cepat disingkirkan dan jika perlu harus segera dibakar. Membakar sampah sama halnya dengan membakar setan.”
“Apa hubungannya sampah dengan setan?” ucap Keliek, warga lainnya yang juga penasaran dengan perkataan Bardi.
“Seperti yang kukatakan tadi, setan itu kesukaannya berada di sampah atau tempat kotor.”
Keliek diam, pandangannya tertuju pada Tito yang berdiri di dekatnya. Sementara Tito terlihat sesekali mengerutkan dahinya seakan tidak paham dengan kata-kata yang mengalir dari mulut Bardi.
***
Hari-hari berikutnya apa yang dilakukan Bardi tidak pernah berubah. Setiap berada di rumah yang dikerjakan hanya selalu membersihkan sampah, dikumpulkan, lalu dibakar. Meski gedek rumahnya pernah terbakar gegara membakar sampah, tetapi kenyataannya tidak menjadikan Bardi khawatir. Bahkan kesenangannya membakar sampah semakin menjadi-jadi dan seakan tidak bisa dicegah.
“Sebenarnya aku bingung harus menjawab apa jika ada tetangga yang bertanya mengapa Sampeyan selalu membakar sampah dengan alasan agar setannya minggat,” ucap Siti, istrinya terdengar pelan setelah meletakkan segelas kopi di meja dan sekarang duduk di dekat Bardi di ruang depan.
Bardi hanya tersenyum, perempuan yang dinikahi dua tahun lalu itu ditatap sekilas. “Itu hanya karena orang-orang di kampung ini tidak tahu saja.”
“Maksudnya?”