“Sudah kukatakan berulang kali, di mana saja yang namanya setan itu kesukaannya berada di sampah atau tempat yang kotor. Meski bangunan atau rumah mewah sekalipun, tetapi jika masih ada sampahnya pasti akan ada setannya,” Bardi lalu mengambil kopi di meja, diminum sedikit.
Siti hanya diam. Matanya tanpa kedip tertuju pada suaminya.
“Makanya agar tempat atau rumah itu tidak ada setannya, harus bersih dari segala macam sampah atau kotoran.”
Siti tetap diam, pikirannya kini berkecamuk sendiri memikirkan perkataan suaminya yang sulit dipahami.
“Agar rumah tidak ada setannya, sampah atau kotoran yang ada harus segera dibersihkan dan dibakar. Tidak ada gunanya mengusir atau menjauhi setan jika tempat atau rumah yang ditinggali masih ada sampahnya. Sampah itu harus dibakar, agar setannya juga ikut terbakar.”
Siti masih terdiam, pikirannya semakin bertambah bingung. Sesaat kemudian dia pun melangkah pelan menuju kamarnya hendak tidur.
“Setan! Setan!”
Belum sampai memejamkan mata, tiba-tiba Siti dikejutkan dengan suara teriakan yang amat keras dari suaminya. Siti pun cepat-cepat keluar dari kamar dan berlari menuju ke ruang depan. Tetapi ketika sampai di ruang depan, wanita itu hanya melihat suaminya yang sedang membuka pintu dan kemudian cepat-cepat berlari entah ke mana tujuannya.
Sementara warga dekat yang kebetulan mendengar teriakan yang cukup keras itu pun segera berhamburan menuju rumah Bardi, ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Setelah diberitahu Siti jika sekarang suaminya telah lari meninggalkan rumah, warga pun hendak mencari ke mana Bardi pergi.
“Setan! Setan!”
Belum sampai warga melangkahkan kakinya, tiba-tiba di jalan depan rumah itu terlihat Bardi tengah berlari kencang seperti ketakutan. Melihat keanehan yang dialami Bardi seperti itu, warga pun sontak berhamburan hendak mengejarnya.
Setelah sekian waktu warga berusaha mengejarnya, Bardi baru bisa ditangkap setelah terperosok ke lubang yang cukup dalam berisi sampah di pinggiran kampung.
“Setan! Setan!” kata Bardi terdengar keras dan seakan berontak saat warga memegangi tubuhnya. Dan tidak lama kemudian setelah agak tenang, warga pun mencoba bertanya apa yang tengah dialaminya.