Eva dalam Dua Cerita Berbeda

Tentu, tentu saja. Aku mengiyakan ucapannya. Dalam hidup, kita harus selalu berhati-hati meski kadang berhati-hati hanya berarti menjaga keselamatan diri sendiri. Tentu, tentu saja; apa pedulimu jika kecurigaanmu tak berdasar? Yang kau perlukan cuma seseorang yang rela dijadikan kambing hitam bukan?

“Apa benar di tubuhmu ada ular?”

Ujung jemariku menghitung jumlah ruas tulang belakangnya, atau karena belakangan ini aku sering sekali membaca puisi-puisi di koran, kuistilahkan sebagai membaca peta tubuhnya. Ia berbalik mempertontonkan punggungnya yang telanjang. Sepasang ular birahi saling memagut, menggelinjang gelisah.

“Bercinta dengan tubuhku adalah seni menunda maut, suamiku tak menguasainya.”

“Dan, ia berbohong?”

“Menurutmu, kau tidak sedang berbohong, A? Katakan, apa itu kebenaran?”

02

Kau mengingat sosoknya sebagai bocah lelaki berusia enam tahun yang gemar bertualang hingga sering tersesat. Beberapa kali, orang asing mengantarnya pulang ke rumah, memberi jaminan kepada kedua orang tuanya, ia sudah diberi makanan dan minuman cukup sebelum dikawal pulang. Sering, ia ditemukan salah satu adik lelaki ibunya, seorang polisi, tengah berdiri sendirian di tepi jalan menuju perkebunan kopi angker milik para biarawan Katolik. Diajak teman-teman bermain petak umpet, katanya. Setelah selesai bermain petak umpet, kami akan berjalan kaki ke rumah sakit, menjenguk ibu salah satu teman yang baru melahirkan, katanya lagi. Tapi, teman-temanmu tak nampak, maka kau harus pulang ke rumah, dan berpesan agar mereka tidak mengikutimu, atau mengajakmu bermain, kata adik lelaki ibunya.

Kau mengingat sosoknya sebagai bocah lelaki berusia enam tahun yang tak berkawan meski mengenal setiap jengkal kebun kopi angker seperti mengenali ruang-ruang dalam rumahnya sendiri. Juga, mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Beberapa ia ceritakan padamu, diakhiri dengan kalimat sakti; Eva, kau boleh percaya atau tidak percaya, tapi kalau apa yang saya ceritakan ini kelak terjadi, kau tidak boleh menceritakan hal ini kepada siapapun. Truk yang dikemudikan ayah si A akan terjungkal ke jurang, si B akan kawin lari dengan si C dan minggat dari kota, kau lihat motor yang memuat tiga murid SD itu? Motor itu akan mengalami kecelakaan di perempatan jalan, tapi semuanya akan selamat.

“Nenek saya sedang sekarat, apakah dia akan meninggal?”

Arsip Cerpen di Indonesia