Eva dalam Dua Cerita Berbeda

“Hingga hari ini kau tak pernah bisa melupakan jawabannya, jawaban seorang bocah lelaki berusia enam tahun yang tak berkawan, yang mengenal setiap jengkal kebun kopi angker dan mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di kemudian hari. Nenekmu akan meninggal tujuh hari sebelum kau menikah, jadi kau masih punya banyak sekali waktu untuk mendengarkan omelannya yang seperti burung beo itu. Dia akan segera sehat. Kau akan jadi pengantin yang sedih. Sedih dan terasing. Saya melihatmu berada di negeri yang jauh… Negeri yang jauh… Ia lantas bersiul, sementara kau menghitung jumlah tahun yang tersisa sebelum nenekmu meninggal. Kau tidak mengangankan pernikahan, kau mengira-ngira berdasarkan usia rata-rata para perempuan di keluargamu ketika mereka memutuskan untuk menikah. Dua puluh lima. Berarti masih ada delapan belas tahun sebelum kematian itu tiba. Adakah cara mengakalinya? Saya tak ingin nenek mati, dan saya tidak ingin menikah. Wajahmu mengiba; sebenarnya, wajahmu kau atur agar terlihat mengiba—ini adalah teknik berpura-pura yang kau pelajari dari sepupu-sepupumu, yang jumlahnya tiga belas, yang menggunakan teknik yang sama agar diberi uang jajan oleh nenek. Ada. Tentu saja ada. Di tengah kebun kopi ada pohon mangga yang buahnya manis-harum. Kalau kita ke sana, dan melakukan upacara pernikahan, tentu malaikat akan kebingungan dan mengubah catatannya. Waktu meninggal nenekmu belum tiba, waktumu menikah telah tercatat. Kau tahu, anak kecil kadang-kadang bisa mengecoh takdir, seperti Nabi Isa menciptakan burung dari tanah liat, burung-burung itu terbang ke langit…

Kau tak bisa mengingat dengan persis rute yang kalian lalui hingga tiba di sekitar pohon yang ia maksud. Seekor burung hantu beruhu-uhu, dan kau maklum jika ia keliru menafsirkan waktu. Matahari jam lima sore tak mengantarkan cahaya yang cukup ke dalam rimbun pohon kopi. Suasana temaram, dan kau mulai mengingat pesan para orang tua; kanak-kanak tak boleh berjalan-jalan jauh sendirian ketika matahari hendak terbenam, roh mereka yang lemah akan terbuai melihat cahaya jingga keemasan di ufuk barat, hingga mereka akan terus berkelana mengejar warna yang sama dari batas langit yang satu ke batas langit yang lain… Tapi, di kebun kopi, ketika kau mendongak, yang nampak hanya rimbun dedaunan hijau-gelap. Hantu-hantu gentayangan di kebun kopi, hantu-hantu pekerja dari jaman Belanda yang mengira dirinya belum mati. Kau tak melihat orang-orang yang acuh bekerja, atau bayangan-bayangan-bayangan, atau siluet manusia yang kakinya tak menapak tanah; hantu yang diceritakan para orang tua. Kau mulai meragukan kebenaran cerita-cerita yang kau dengar. Dalam suasana muram saat itu, hanya nampak olehmu, punggungnya yang tegap dan rambutnya yang hitam gagak dipangkas 2-1-2, barangkali di tukang pangkas tuli yang dalam benakmu sudah berusia sama tuanya dengan kota tempat kalian bermukim.

Arsip Cerpen di Indonesia