Eva dalam Dua Cerita Berbeda

Kalau kita memakan buah ini, sampai habis, masing-masing separuh, Surga mencatat pernikahan kita. Kau mau tahu sebabnya? Di pohon ini malaikat pencatat takdir sering beristirahat. Sambil beristirahat, ia memeriksa catatannya. Kalau ada yang keliru, atau ada yang harus diganti, dia akan melakukannya di sini sebelum melapor ke Surga. Jangan khawatir karena kau tak bisa melihatnya. Apa urusannya memperlihatkan diri? Yang kita butuhkan hanya percaya, kita bisa membuatnya mengubah catatan dengan cara ini.

Kau masih mengingat sosoknya sebagai bocah berusia enam tahun yang tak berkawan meski mengenal setiap jengkal kebun kopi seperti mengenal ruang-ruang dalam rumahnya sendiri, juga mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Barangkali, ia mengingatmu sebagai istrinya, atau sebagai seorang anak perempuan yang ingin mengakali takdir. Barangkali juga, ia mengingatmu sebagai anak perempuan yang melemparinya dengan batu hingga ia jatuh, berdarah dan terbang lebih gegas ke angkasa bersama malaikat pencatat takdir untuk menghindarimu. Orang-orang mengingatnya sebagai bocah lelaki yang tak pernah kembali dari petualangannya bersamamu di kebun kopi. Kau tak ingin mengingatnya sebagai seorang bocah lelaki yang berubah menjadi seekor burung pipit raksasa setelah memakan buah bagiannya, berusaha mematuk kedua pupil matamu dengan paruhnya yang runcing tajam agar selamanya kau buta. Kau hanya ingin mengingat dirimu sebagai pemenang. Meski setelahnya, kata-kata meninggalkanmu, dan kau menganggap tubuhmu telah jadi tanah liat retak yang tak mungkin ditumbuhi apapun. Orang-orang memanggilmu bisu, dan linglung, kutukan untuk seseorang yang telah mengajak orang lain menjadi celaka; dan, jasadnya tak pernah ditemukan, barangkali, telah disembunyikan hantu-hantu. Sesekali, seekor-dua ekor burung pipit terbang rendah di halaman rumahmu. Pembohong! Umpatmu dalam hati. Kau yakin mendengar suaranya tertawa, balas mengejek. Ia masih bocah lelaki berusia enam tahun yang tak berkawan, yang mengenali setiap jengkal kebun kopi seperti mengenali ruang-ruang dalam rumahnya sendiri. Kau telah jadi tubuh dewasa, tetapi kau masih tak ingin mengingatnya sebagai burung pipit raksasa yang ingin mematuk kedua pupilmu agar kau selamanya buta. Siapa yang akan percaya? Bahkan, kata-kata pergi meninggalkan lidahku. Barangkali karena kata-kata telah mengetahuinya lebih dulu.

 

Fransiska Eka saat ini berdomisili di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Arsip Cerpen di Indonesia