Batu Hujan

“Apakah ini dampak dari global warming? Atau Tuhan sedang murka terhadap kami yang sudah tidak peduli dengan lingkungan? Mata air di hulu desa semakin mengecil. Sungai mulai mengering. Apa air mata kami akan dibuat mengering juga, akibat gagal panen yang akan terjadi tahun ini? Atau inilah tanda-tanda akan terjadi grubug di desa?” Dengan wajah yang sedikit khawatir dan ada rasa takut mendera batin, Murti menarik nafas panjang, Murti mencoba menenangkan batinnya. Dia berusaha menampik semua kekhawatirannya itu.

Murti percaya bahwa itu bukan tanda-tanda grubug, karena menurut cerita orang tua di desa apabila akan terjadi grubug pastinya ditandai dengan adanya bunyi ketungan setiap hari menjelang tengah hari. Bunyi ketungan  itu sangat jelas didengar oleh petani ketika berada di sawah. Entah dari mana asal bunyi ketungan itu. Orang-orang di desa sangat percaya bahwa itu tanda secara gaib yang diberikan oleh Dewa Penguasa di desa untuk mengingatkan masyarakatnya. Bunyi itu akan terus didengar selama tiga hari berturut-turut. Hal ini dibuktikan oleh orang-orang di desa ketika dulu tahun 1963, menjelang gunung Agung mengalami erupsi dahsyat. Tanda-tanda akan terjadi bencana besar itu sudah diberikan. Mulai dari terdengar bunyi ketungan secara berturut-turut, sampai dengan terjadinya hama walang sangit di desa yang menyerang padi di sawah. Setelah itu bencana gunung Agung tidak bisa terelakkan. Tanaman banyak yang mati akibat abu vulkanik yang tebal. Sungai-sungai rusak parah karena dialiri lahar. Inilah tanda-tanda terjadinya grubug di desa. Banyak korban yang meninggal waktu itu.

Murti mendengar kisah dari bapaknya, bahwa dulu waktu bencana gunung Agung terjadi, banyak orang di desanya mati kelaparan. Hal-hal mistik juga tidak terhindarkan. Ketika sungai di desa dialiri lahar, banyak sekali ikan yang mati kepanasan. Penduduk desa berbondong-bondong datang menyerbu memungut seluruh ikan yang mati untuk dimakan. Namun setelah ikan itu dimakan ternyata mereka yang memakan ikan itu jatuh sakit, muntah-muntah yang diawali dengan sakit perut. Lalu ada di antara mereka yang memakan ikan itu menjerit histeris seperti orang yang kerauhan. Orang yang kerauhan itu menyuruh penduduk tidak mengambil ikan mati yang ada di sungai. Ikan-ikan itu sudah dipersembahkan kepada para bhuta kala. Mereka yang sudah memakan ikan itu agar menghaturkan banten dan memohon maaf kepada para bhuta kala karena telah mengambil persembahan untuk mereka. Memang benar setelah upacara itu dilakukan, seluruh warga yang tadinya sakit bisa sembuh kembali seperti biasa.

Arsip Cerpen di Indonesia