Batu Hujan

“Ada apa ini? Apakah tirtha yang dituangkan Jro Mangku kurang?” Begitu gumam Murti dalam hati, lalu dia bergegas pergi. Dalam perjalanannya pulang, Murti memutar otaknya. Lalu didalam pikirannya terlintas sebuah rencana besar. Dirinya tersenyum sambil melangkah menuju rumahnya. Nanti malam rencana itu akan dilakukan. Sesampainya di rumah Murti mempersiapkan segala perlengkapan yang akan dibawanya nanti malam. Menjelang tengah malam Murti bergegas pergi ketika seluruh penduduk desa sudah terlelap dalam mimpi. Dengan membawa senter dan sarana yang sudah dipersiapkannya, Murti bergegas pergi menuju Pura Bedugul. Sesampainya disana Murti mempersembahkan beberapa sesajen. Asap dupa menari di areal Pura Bedugul. Setelah berdoa dan memohon izin, lalu Murti mengangkat Batu Hujan tersebut untuk dibawa ke hulu desa tempat sumber mata air. Di sumber mata air itu masih ada genangan air yang dimanfaatkan penduduk untuk keperluan air minum. Batu Hujan diletakkan digenangan air yang berada dekat dengan tebing yang cadas dipenuhi semak-semak. Murti lalu menutupi Batu Hujan dengan semak-semak yang tumbuh di sekitarnya. Setelah itu Murti bergegas pergi agar tidak ada yang tahu. Keesokan harinya terdengar berita geger di desa. Jro Mangku Pura Bedugul melaporkan bahwa Batu Hujan telah raib.

“Ada yang mencuri Batu Hujan. Siapa yang berani mencurinya? Lalu untuk apa dicuri?” Begitu desas-desus pertanyaan masyarakat. Murti diam saja dan pura-pura tidak tahu. Pekaseh mengadakan rapat bersama Prajuru Desa untuk mencari keberadaan Batu Hujan. Sudah hampir empat hari Batu Hujan dicari, namun tidak juga ditemukan. Di langit perlahan-lahan mendung mulai menampakkan wajahnya. Mendung terus menari. Semakin waktu semakin tebal tarian mendung, hingga menutupi seluruh langit di desa yang terlihat gelap. Murti merasa senang karena tindakannya berhasil. Doanya terkabulkan. Penduduk desa yang sibuk mencari Batu Hujan menghentikan kegiatannya. Semua mata kini tertuju pada langit yang gelap akibat tertutup mendung. Petir terus berkelebat. Suara gemuruh saling bersahutan. Beberapa saat kemudian tetes-tetes air hujan turun menerpa pertiwi. Kerinduan pertiwi akan basuhan air hujan sekarang terbalaskan. Air hujan yang turun semakin deras. Mata air kembali hidup. Nadi-nadi sungai mulai mengalir. Namun hujan kali ini sungguh berbeda. Hujan itu turun tiada henti-hentinya selama dua hari. Air sungai meluap. Banjir tidak dapat dihindari. Padi-padi di sawah hanyut tersapu air. Sawah seperti danau. Batu Hujan terus terendam air semakin dalam hingga tenggelam.

Di atas bukit, Murti tidak bisa membendung air yang keluar dari kelopak matanya yang dulu mengering.

 

I Nyoman Agus Sudipta lahir di Karangasem, 29 September 1984. Menulis artikel, cerpen dan puisi yang dimuat media massa lokal di Bali. Buku yang sudah terbit: Melihat Bali dari Berbagai Sisi (2016); Belajar Bersama-sama (2016); dan kumpulan cerpen berbahasa Bali Ngrebutin Abu (Memperebutkan Abu) (2019). Mengelola majalah sastra berbahasa Bali “Buratwangi” yang diterbitkan Balai Bahasa Bali dan mengelola Sanggar Kata yang bergerak dalam apresiasi sastra Indonesia dan Bali. Kini bekerja sebagai guru di SMK negeri 1 Abang Karangasem Bali.

Arsip Cerpen di Indonesia