Ketika upacara itu dilaksanakan ternyata mereka menemukan sebuah batu yang bentuknya seperti sebatang bambu besar. Panjang batu itu kurang lebih 40 cm. Bentuknya bulat panjang dan pipih yang bentuknya hampir bulat. Pada bagian tengah batu pipih itu ada cekungannya. Bentuknya hampir mirip dengan cobek untuk mengulek sambal terasi. Kedua batu itu lalu diangkat dan ditaruh sedemikian rupa di atas batu besar yang ada di sungai. Batu yang pipih ditaruh di bawah sebagai alas. Batu yang bulat panjang ditaruh di atasnya berdiri. Pada saat itu cekungan batu pipih itu sedang berisi air dan merendam bagian bawah batu yang bulat lonjong itu. Batu itu dibiarkan beberapa hari di tempat itu. Menjelang hari keempat, langit di desa secara perlahan ditutupi mendung yang tebal. Pada hari kelima hujan deras turun mengguyur desa. Sisa abu vulkanik yang menempel di pepohonan perlahan hanyut. Panasnya lahar yang mengalir di sungai perlahan mulai mereda. Pasir dan bebatuan mulai terlihat menggunung di sungai. Di sanalah penduduk desa percaya bahwa batu yang ditemukan di sungai tempat melaksanakan upacara waktu itu yang memiliki kekuatan mendatangkan hujan. Batu tersebut lalu diupacarai dan dibungkus dengan kain poleng lalu distanakan di Pura Bedugul. Batu itu lalu diberi nama Batu Hujan.
Setiap tahun tepatnya pada Tilem Kapat ketika ada upacara di Pura Bedugul, Batu Hujan diturunkan dari tempatnya. Batu yang bulat panjang ditaruh agar bisa berdiri dengan beralaskan batu pipih yang di dalamnya cekung. Setelah prosesi upacara selesai, lalu bagian cekung batu itu dituangi tirtha agar batu bulat lonjong itu terendam. Benar saja setelah lima hari dari prosesi itu, di desa turun hujan dengan lebat. Musim kemarau terhanyutkan. Datanglah musim hujan dan seluruh padi di sawah kembali mendapatkan air. Para petani merasa gembira dan penuh syukur. Upacara yang dilakukan di Pura Bedugul saat Tilem Kapat berbuah manis. Air sungai mulai mengalir. Padi di sawah tumbuh subur. Begitulah seterusnya kepercayaan yang muncul di desa. Ketika musim kemarau berkepanjangan, maka Batu Hujan menjadi sarana untuk memohon turunnya hujan.
Murti masih merasa heran. “Mengapa pada tahun ini upacara di Pura Bedugul gagal. Mengapa ritual mempergunakan sarana Batu Hujan untuk memohon hujan gagal. Apakah khasiat dari Batu Hujan sudah musnah? Apakah terjadi kekeliruan dari ritual yang dilakukan?” Murti semakin penasaran. Siang itu Murti ingin mengobati rasa penasarannya. Murti ingin mengetahui sebenarnya apa yang terjadi. Ketika pulang dari sawah Murti menyempatkan diri singgah ke Pura Bedugul. Memang pura itu tidak jauh dari sawahnya, hanya berjarak sekitar lima petak saja. Murti membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum masuk ke areal utama Pura Bedugul. Murti penasaran ada apa dengan Batu Hujan tersebut. Dilihatnya ternyata Batu Hujan itu masih kokoh berdiri di atas alasnya tersebut. Di cekungan alasnya masih terdapat tirtha yang dituangkan Jro Mangku.