“Ayahmu yang membopong masuk ke kamar,” tutur ibu Anwar sambil mempersiapkan makan sahur.
Seusai shalat Subuh dan mendengarkan kultum subuh, orang-orang belum beranjak dari mushala karena di luar gerimis. Anwar duduk-duduk mendengarkan orang-orang berdebat perihal malam seribu bulan.
“Bukan, sepertinya semalam bukan malam seribu bulan. Pagi ini langit mendung dan turun hujan. Bukannya kalau semalam lailatul qadar udara dan suasana pagi ini akan terasa tenang.”
Dalam hati Anwar girang karena semalam bukan malam istimewa turunnya Alquran. Ia masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya.
Malam ke-23 seusai salat tarawih. Anwar masih juga berjaga di serambi rumahnya. Berkali-kali ayah dan ibunya menegur agar ia masuk ke dalam kamarnya.
“Ia Anwar dengar, sebentar lagi,” jawabnya. Kemudian, ia masuk ke dalam rumah, bukan untuk tidur, tapi guna menyeduh kopi agar matanya tahan melek.
Dalam hati Anwar heran, mengapa ayah ibunya tidak berburu malam seribu bulan. Ah, mungkin ayah dan ibu sudah pernah bersua dengan malam turunnya malaikat Jibril ke bumi.
Tetapi kembali, Anwar terlelap di kursi panjang setelah lelah mendongak ke atas langit berkali-kali dan bulan masih juga sendiri dengan bentuk lengkungnya makin runcing macam celurit. Ia baru terjaga setelah mendengar ayahnya membangunkannya untuk makan sahur.
“Kamu tidur di luar lagi? Ayo bangun kita santap sahur dulu.”
Pulang dari mushala, tak terdengar orang-orang bedebat tentang lailatul qadar. Anwar kecewa karena merasa ia tertinggal kesempatan untuk menyaksikan malam keselamatan itu. Namun, saat pagi tiba, ia teringat sesuatu selain ciri udara dan suasana pagi yang tenang juga malam seribu bulan ditandai matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan.
“Pagi ini matahari sudah panas sekali! Kurasa semalam belum datang seribu bulan.”
Malam ke-25 juga malam ke-27. Anwar tidak tidur di rumah, melainkan sengaja berburu malam seribu bulan di mushala bersama jamaah lain. Tampak ustaz Halim berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang beribadah iktikaf. Karena malu baru bermalam di tempatnya salat tarawih, Anwar berpura-pura tiduran namun terlelap jua. Bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar kelas III itu masih terlalu kecil untuk tak tidur semalaman.