Berburu Malam Seribu Bulan

Anwar kembali kecewa karena dua kali di malam ganjil itu ia ketiduran melulu. Namun, ia masih tersenyum karena mendengar orang-orang masih juga berburu malam seribu bulan pada malam ganjil berikutnya.

“Berarti belum juga bulan menjadi seribu.”

Malam ke-29. Anwar yang tengah bersila dan merapal zikir terkejut ketika punggungnya ditepuk oleh seseorang. Ia menengokkan kepalanya lalu menghadapnya.

“Oh, ustaz Halim. Mari silakan, Ustaz,” sembari mempersilakannya duduk bersama.

“Nak Anwar putranya bapak Salim, kan?”

“Betul, Ustaz.”

“Beberapa malam ini saya sering lihat Nak Anwar tidur di mushala ini, apa ayahmu tidak mencari-cari?”

“Saya sudah izin, Ustaz.”

“Oh, bagus,” ucapnya sambil manggut-manggut.

“Ustaz, saya ingin bertanya,“ ucap Anwar kemudian berhenti untuk menyusun kata-kata, “beberapa malam ganjil ini saya berburu lailatul qadar seperti ceramah ustaz Halim.”

“Wah, bagus itu Nak Anwar, terus?”

“Saya selalu tertidur sebelum melihat malam seribu bulan. Apakah bulannya sejumlah seribu? Saya tengok bulannya tetap satu bahkan makin berganti malam-malam ganjil bentuk bulannya makin kecil dan hilang.”

“Aih,“ ustaz Halim tergelak, “Nak Anwar ada-ada saja. Bukannya malam seribu bulan itu bulannya berjumlah seribu, melainkan keistimewaannya melebihi seribu bulan. Seribu bulan kalau dihitung kurang lebih 83 tahunan.”

“He he he, saya yang keliru.”

Lailatul qadar adalah rahmat dari Allah untuk umat Nabi Muhammad SAW yang usianya tak sampai seratus tahun sehingga tidak dapat untuk beribadah selama seribu bulan. Oleh karena itu, diberilah kedatangannya di setiap bulan Ramadan pada malam-malam ganjil yang selalu dirahasiakan kapan kehadirannya agar umat Islam berlomba-lomba mendapatkan malam seribu bulan itu dengan beribadah supaya memperoleh ampunan Allah.”

Anwar manggut-manggut lalu tersenyum. “Berarti malam ini masih ada kesempatan untuk mendapatkan malam seribu bulan itu?”

“Insya Allah, Nak Anwar.”

Arsip Cerpen di Indonesia