Semua laki-laki bergerak menuju sebuah rumah. Di antara rumah-rumah lain, rumah itu paling besar dengan arsitektur berbeda. Atapnya lancip dan tinggi, seperti lebih tinggi dari bangunan rumah itu. Demi melihat para lelaki dan kereta kudanya, warga permukiman tepi laut itu sontak menjerit-jerit, berlarian ke sana-kemari. Perempuan-perempuan menggendong anak dan para lelaki berusaha melindungi mereka dengan membawa ke kebun kelapa. Di sana warga itu berkumpul, seperti pengungsi, melihat apa yang akan terjadi.
Di halaman rumah besar itu, para lelaki, dengan tombak tegak lurus, membentuk satu barisan siap tempur. Dari dalam rumah seorang perempuan muncul, masih muda dan cantik. Di belakangnya beberapa pemuda menampakkan wajah tegang. Aku merasakan tubuhku didorong ke depan; lelaki bermahkota emas telah melepaskan pegangan di lenganku dengan cara mengayunkan sehingga aku nyaris tersungkur.
“Berikan pedang itu pada pemuda ini,” kata lelaki bermahkota emas kepada perempuan itu.
Tak ada jawaban. Aku sekarang berada di tengah-tengah dua kelompok. Saat itu aku baru menyadari apa yang kukenakan; kaus oblong ungu polos, celana jins tergulung di bagian bawah, ikat pinggang kulit, dan sepatu olahraga model lama yang basah. Itu semua pakaian keseharianku. Namun aku tidak berada di tempat yang tak kukenal sehari-hari. Entah di mana.
“Tidak ada pedang,” kata perempuan itu, “Siapa pun yang memberi….”
Belum selesai ucapannya para lelaki bertombak sudah menyerbu. Para pemuda kocar-kacir, sebagian melawan tetapi langsung tumpas oleh satu-dua gerakan. Perempuan itu terjengkang ke belakang, tubuhnya menghantam pintu rumah yang langsung terbuka. Para lelaki bertombak, sambil berteriak-teriak, masuk ke dalam rumah.
Teriakan mereka tiba-tiba terhenti. Kaki mereka terpaku ketika melihat di atas tugu kecil pemujaan, di tengah-tengah ruangan, sebuah pedang tegak berdiri. Mata pedang itu bersinar, hijau terang, berpendar ke sekitar dan membuat pedang itu tampak seperti berada dalam lingkaran kabut cahaya.
Para prajurit itu segera surut, tertunduk dan nyaris berlutut. Hanya lelaki bermahkota emas yang masih tegak. “Ambil!” kata lelaki bermahkota emas sambil kembali mendorong tubuhku.
Aku ragu-ragu, melihat para prajurit itu gentar. Kembali aku ada di tengah-tengah, antara pedang hijau dan para prajurit. Dari luar rumah terus terdengar suara ombak, dan kali ini ditingkahi suara tangis dan teriakan.
“Cepat, tidak banyak waktu. Ambil pedang itu. Cuma kau yang bisa mengambil,” seru lelaki bermahkota emas.
Dengan bimbang, aku mendekat.
***